GNPF Ulama dan PA 212 : Itjima Ulama se Indonesia

Oleh : H. Anhar, SE.MM

JAKARTA, LINTASSUMSEL.COM,–Tidak berlebih jika saya katakan bahwa Tommy Soeharto memang mewarisi aura Soeharto. Berjalan tenang dengan senyumnya yang mengembang, ia datang dengan menumpang mobil sederhana saja, Padjero keluaran lama.

Awak media dan para santri menyerbunya. Riuh rendah suara awak media meminta Tommy sedikit berkomentar, ia hanya tersenyum saja sambil terus berjalan. Di depannya tampak Ustad Haikal Hasan yang sebelumnya memamang tampaknya sengaja menunggu kedatangan Tommy, Saya sempat berbincang beberapa saat dengan beliau : Ustad Haikal.

Tommy turun dari mobil kira-kira berjarak seukuran dua tiang bendera dari depan loby hotel Peninsula, Saya saksikan Tommy malam ini berbeda, tampak lebih sederhana, ketenangannya paripurna.

Saya ulurkan tangan untuk salaman , ” Minggu depan ya, pak,” ia berujar ke saya. Saya jawab saja,.. iya, mas. Sambil kami tertawa, berjalan masuk ke dalam hotel.

Hall hotel penuh, ulama dari berbagai daerah yang hadir. Kiyai Makruf Bondowoso bahkan turut hadir. Di atas kursi roda, infus masih tergantung , tetapi semangat membela Ummat, semangat membela Islam menjadi motivasi dan tanggung jawab nya untuk turut hadir. Beberapa santri mendorong kursi rodanya, ada juga yang membawakan tabung oksigen. Satu orang perawat wanita mendampingi beliau, momen yang sangat mengharukan.

Dengan kondisi beliau yang sedang sakit, tetap menyempatkan untuk turut hadir. Saya jadi teringat akan satu orang pengacara GMPF yang justru malah menjual dirinya dengan maju menjadi caleg lewat partai pendukung penista Agama Islam, miris.

Suasana ramai namun terasa begitu renyah. Beberapa ulama tampak saling mengucap salam lalu berpelukan. Gamis dan baju taqwa putih mendominasi. Ulama dan orang-orang yang dekat dengan Tuhannya berkumpul pada waktu dan ruang yang sama, banyak keberkahan, saya meyakini.

Hadirin dipersilahkan berdiri, acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Gubernur DKI, Anies Baswedan membuka acara
dengan gaya pidato seperti yang biasa kita saksikan : tenang, runut, berisi.

Diputarkan juga pesan Habib Rizieq melalui rekaman vidio. Beliau berpesan bahwa “koalisi ini akan didukung gelombang besar yang selama ini termarjinalkan.”

“Yakinlah modal umat akan jadi modal sangat besar.”

“Belajarlah dari pilkada Ibu Kota Jakarta, bagaimana keikhlasan niat dan kebulatan tekat mampu kalahkan petahana yang ditopang negara dan didanani konglomerat naga,” ujar beliau.

Prabowo, dan kemudian satu persatu ketua partai memberikan pidatonya. Prabowo dengan berapi-api mengatakan bahwa ia siap maju untuk pilpres 2019 atau pun memfasilitasi siapa saja figur yang sekiranya dianggap lebih pantas jika ada, maka, ia akan mendukung juga.

Tomy Soeharto mendapat giliran terakhir memberikan sambutan sekaligus sebagai pidato penutup dari ketua-ketua partai yang hadir, ia meminta kepada ulama, agar melalui santrinya untuk ikut serta menjaga sejak dari proses pemilihan di TPS.

H. Anhar dan Ust. Haikal

Seketika peserta memekikkan Takbir. Agaknya bagi peserta yang hadir, 2019 ganti presiden sudah menjadi harga mati, tak bisa ditawar lagi. Allahuakbar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *