BBM Naik Berkali – kali , Ngga Bikin Lagu, Om?

LINTASSUMSEL.COM, — Saya hanya membacanya sekilas saja. Tertulis di twit itu :

“empat setengah juta kepala keluarga akan mendapatkan kepemilikan tanah”

Seorang kawan nitizen mention ke akun saya, twit yang di tulis oleh entah admin atau pemilik akun itu sendiri.

Akun seleb dengan jumlah follower 6 digit, twit musisi legendaris Iwan fals. Siapa tak mengenal Iwan di Indonesia ini.

Kalau ia, Iwan, ngetwit mengenai musik, niscaya saya tak akan ikut berkomentar.

Saya cukup mengerti dengan kalimat “akan” yang dipergunakan pada twitnya, namun, saya terkaget saat skrol ke atas, kalimat-kalimat yang ia gunakan di twit sebelum yang dimention-kan kawan saya kepada saya, menggiring ke arah mengartikan kalimat “akan” itu menjadi seolah sudah dan pasti.

Kok gitu, ya.

Kejernihan dan keberimbangan tak lagi tercermin dari kearifan seorang seniman, agaknya iwan kini kesulitan membahasakan kalbunya, mungkin itu sebab kini karya musiknya menjadi terasa garing.

Saya tak ingin membahas latar belakang twit Iwan yang lain. Saya coba menjelaskan prihal yang saya ketahui mengenai 4,5 juta sertifikat, yang kata iwan dalam twitnya akan dimiliki warga masyarakat.

Opo iyo?

Padalah, kami sebagai elemen masyarakat Forum Anti Korupsi dan Advokasi Pertanahan (FAKTA) telah melakukan penjajakan mengenai program PTSL yang dimaksud Iwan, dan di lapangan kami temukanlah bahwa ada beberapa klasifikasi terhadap program PTSL tersebut, antara lain:

1. K1 – Berkas Lengkap, dengan demikian sertipikat bisa diterbitkan.

2. K2 – Masih ada Sengketa, ini artinya sertipikat belum bisa diterbitkan.

3. K3 – Berkas belum lengkap, ini juga Sertipikat belum bisa diterbitkan bisa saja saat diukur nama yang tercantum dalam daftar tidak diketemukan atau bahkan mungkin tidak ada orang nya.

4. K4 – Sudah Terdaftar, ini juga tidak bisa diterbitkan sertipikat nya karena diatas tanah yg diukur sebagai objek PTSL sudah terdapat sertipikat di atas tanah tersebut.

Pertanyaannya, apa Iwan mengerti, mengetahui, atau memahami mengenai empat point di atas?

Kami lebih perdalam lagi. Pada klasifikasi dengan kode K1 saja lah yang sudah bisa diterbitkan dan dapat dikatakan sah sebagai sertifikat.

Justru kondisi lahan yg berstatus K2, K3 dan K4 itu di setiap daerah malah banyak ditemukan.

Baca klasifikasi di atas. Lalu pertanyaannya, berapa jumlah K1 ?

Apa 4,5 juta, wan?

Sebagai gambaran :
Lembaga yang mengurusi program PTSL , ATR/BPN, sebelumnya hanya mampu menyelesaikan Sertifikat sebanyak 500 Ribu pertahun dan saat ini ditargetkan naik menjadi 5 juta sertifikat.

Bayangkan saja, anda biasanya membuat 5 lagu dalam satu tahun kemudian digenjot untuk bisa membuat 5 album dalam satu tahun?

Kira-kira begini : seperempat lagu anda save dulu, karena syair belum lengkap atau mungkin melodi kurang pas, lalu anda beri kode K2. Lalu, apa yang demikian sudah bisa dikatakan sebagai lagu?

Tetapi karena anda dikejar target oleh perusahaan rekaman, saat ditanya, ya anda katakan saja sudah jadi, walaupun masih proses.

Tahun 2018, informasi yang kami peroleh bahwa ada 5 besar KANWIL BPN yang mendapat peringkat juara dalam proyek PTSL ini.

Juara 1 nya telah berhasil mencapai 30 persen, untuk penyelesaian sertifikat dengan klasifikasi K1. Juara 2 capaian nya 20 persen dan Juara 3, 4 dan 5 masing2 sekitar 10 persen.

Sementara, 29 KANWIL lain nya malah jauh dibawah 10 persen, sila berhitung dari target 5 juta sertifikat, bukan 4,5 juta seperti yang anda twitkan, akumulasikan, semua masih jauh menyentuh angka 50 persen. Lalu, “akan” yang anda maksud itu kapan, om?

Ada baiknya anda nyanyiin saja rupiah yang makin terpuruk, atau soal BBM naik tinggi berkali-kali tanpa permisi, walaupun sekarang tentunya anda sudah tak perlu beli susu lagi. 

https://twitter.com/PAidi_TM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *