Iwan Fals Kini Tak Stereo Lagi

” Banyak orang hilang nafkahnya,..
Aku bernyanyi menjadi saksi.
Banyak orang Dirampas haknya,..
Aku bernyanyi menjadi saksi.

– Kantata Takwa –

Saya memahami makna Reformasi sejatinya adalah suatu perubahan prikehidupan lama dengan tatanan prikehidupan baru menuju ke arah perbaikan. Kata kuncinya : perbaikan.

Seperti kita ketahui bersama Gerakan Reformasi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 merupakan suatu gerakan untuk mengadakan pembaharuan dan perubahan, terutama perbaikan dalam bidang politik, sosial, ekonomi, hukum, dan pendidikan.

Rakyat kecil memang kurang memahami detail-detail persoalan mengenai kebijakan politik, sosial, pendidikan maupun ekonomi, hukum dan sebagainya. Namun bisa dipastikan bahwa rakyat kecil lebih bisa merasakan, merasakan arah perubahan itu menjadi lebih baik ataukah sebaliknya.

Dalam perjalanan kami ke banyak daerah perkebunan karet dan sawit di Sumsel baru-baru ini, ragam komentar warga kami rangkum dalam tulisan, tentunya yang lebih dominan kami temui dan perbincangkan adalah aspek kehidupan ekonomi masyarakat.

Musi Banyuasin adalah salah satu daerah di Sumatra Selatan yang masyarakatnya bergantung pada sektor perkebunan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Tentunya harga jual produk perkebunan menjadi hal yang utama bagi mereka.

” Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit non plasma tingkat petani sudah ndak bisa diharapkan lagi, mas.” ujar sorang pemilik kebun sawit yang kami temui.

” Penurunan harga nya sangat merugikan petani, sampean bayangkann saja, sebelumnya harga TBS non plasma berkisar Rp1,100 /kg, saat ini harga TBS non plasma cuma di hargai Rp500 kg”, ujar Sonaryo, petani sawit yang sudah sejak tahun 82 menjadi warga kabupaten Musi Banyuasin.

Sunaryo, warga transmigran asal Madiun Jawa timur ini mengeluhkan mengenai harga jual sawit yang terjun bebas.

Menurutnya,..

” lalu, jika kami tanyakan kepada pemerintah mengapa bisa turun sebayak itu, jawabannya, tidak pernah kami mengerti.”

” Teory-teory tinggi mana bisa kami pahami, kami taunya harga terjun bebas dan banyak sekali petani bangkrut”.

“Dengan harga jual saat ini mana bisa kami membayar upah pemanen, mas. Itu belum lagi jika kita tambahkan dari nilai uang yang kita gunakan untuk membeli pupuk,” tambahnya.

”Seandainya Pak Harto masih hidup, mungkin tidak seperti ini nasib kami,…zaman Pak Harto memang saya baru tanam sawit, tapi setidaknya beras sama lauk tak pusing, makanya kini saya beralih tanam padi gogo, karena hasil penjualan sawit tak cukup lagi untuk membeli kebutuhan, kalau dipikir-pikir ingin balik lagi ke zaman Pak Harto,” mas.

Tentunya, dengan menuliskan kutipan pernyataan beberapa petani yang kami temui bukan bertujuan untuk membandingkan era sebelum dan sesudah reformasi, kami sadar, tak akan ada habisnya.

Tetapi lagi-lagi dalam pemahaman kami seharusnya reformasi itu dilakukan dari waktu ke waktu, mengubah sesuatu yang tidak tepat, tidak baik, tidak menguntungkan rakyat, menjadi sebaliknya. Dan tentunya meneruskan apa-apa yang sudah baik di era sebelumnya.

Menutupi kegagalan di era reformasi dengan cara mengambing hitamkan pemerintahan sebelumnya adalah kesombongan yang jelas akan berhujung pada kehancuran.

Keterbukaan informasi yang katanya sudah diraih seharusnya bermakna memberikan informasi yang benar, yang jujur, hal inilah yang sangat diinginkan masyarakat, sehingga masyarakat pun mampu memahami apa persoalan yang sedang dihadapi pemerintah, bukan malah memelintir kegagalan dalam tata kelola pemerintahan dengan narasi pembenaran, toh, rakyat bisa merasakan.

CD kami putar, perjalanan kami lanjutkan.

Vocal Iwan fals mengalun dari speker mobil kami, namun nyata kami rasakan Iwan kini sudah tak stereo lagi.

” Orang-orang,…harus dibangunkan,… aku bernyanyi menjadi saksi,… ”

Wi-Ar
#MerayapiSumsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *