Sintren, Rokok Sajen Legendaris dari Gombong

Gombong, kota kecil di Kabupaten Kebumen merupakan satu-satunya sentra industri rokok kelembak menyan di Indonesia. Penduduk kota ini menjadi saksi kejayaan sejumlah pabrik rokok siong yang legendaris itu. Satu pabrik rokok yang hingga kini masih beroperasi adalah Sintren.

Pabrik Rokok Sintren berdiri pada tahun 1950. Pendiri pabrik ini adalah Agus Sugianto seorang pengusaha pranakan Tionghoa. Kini usaha rokok tersebut diteruskan oleh anak-anaknya.

“Saya diamanati memegang usaha mulai tahun 1988. Saya anak ketujuh dari sembilan bersaudara,” ujar Edi Hendrawanto, saat ditemui di rumahnya yang sekaligus digunakan sebagai Pabrik Rokok Sintren, Jalan Puring No. 25 Gombong, Rabu 2 April 2017.

Dalam menjalankan roda perusahaan Edi dibantu oleh dua saudaranya. Budi Susanto (sulung) bertugas mengurus bahan baku tembakau; sedangkan Adi Hartanto (bungsu) mengurus bagian kertas rokok dan saus rokok. Ketiganya bahu-membahu menjaga tradisi keluarga memproduksi rokok yang dikenal masyarakat Banyumas sebagai rokok sajen.

Tahun 1970-1980 merupakan masa kejayaan pabrik rokok ini. Waktu itu, kata Edi, buruh lintingnya bisa sampai 1000 orang. Namun karena usia menua para buruh linting yang semuanya perempuan tidak lagi kuat bekerja dan sebagian besar lagi meninggal dunia. Kini buruh linting di pabrik tersebut tidak lebih dari 60 orang.

“Semua buruh linting pabrik rokok saya adalah generasi pertama rokok ini. Semua berusia di atas 70 tahun,” ujar Edi.

Edi mengaku tidak berani mengganti ataupun mengistirahatkan buruh-buruh linting pabriknya. Meski hasil lintingan rokok mereka sangat terbatas, dibandingkan ketika masih muda-muda dulu, tapi perusahaan tidak mau memecat. Edi mengatakan hal itu merupakan amanat dari orangtua.

“Mereka sudah bekerja sangat lama dan berjasa bagi keluarga kami. Bahkan sebelum saya lahir mereka sudah bekerja di sini melinting rokok,” ujar pria kelahiran 1962 ini.

Setelah cukup lama berbincang di ruang tamu, Edi mengajak SatelitPost masuk ke belakang rumah untuk melihat langsung ruangan buruh linting Pabrik Rokok Sintren. Dia ruangan 20×5 meter persegi itu tampak nenek-nenek sedang bekerja melinting rokok. Ada yang duduk berhadap-hadapan, ada pula yang terlihat menyendiri ataupun berjejer di satu kursi dan meja panjang.

Di hadapan mereka ada tampah berisi tembakau, kelembak, kemenyan, kertas rokok, lem kertas, dan kayu sebagai alat bantu melinting rokok. Tangan-tangan tua itu masih terlihat cekatan melinting satu per satu batang rokok. Sesekali terdengar gurauan, saling sapa, dan tembang.

Tukasih (70) mengaku sudah bekerja melinting rokok sejak masih bocah. Sekarang dia sudah memiliki 12 cucu dan tiga buyut. Pekerjaan melinting rokok menurutnya untuk pekerjaan tambahan daripada nganggur di rumah.

Sumiyati (70) pun demikian. Tak hanya melinting rokok, tugasnya juga mencatat atau mengabsen siapa saja yang hari itu masuk kerja melinting rokok. Menurut dia tiap hari buruh linting yang masuk kerja jumlahnya tidak tentu.

“Paling katah 50 sing pangkat, tapi biasane nggih sementen, (Paling banyak 50 orang yang berangkat, tapi biasanya ya segini),” ujar Sumiyati. Kemarin Sumiyati menghitung jumlah buruh linting yang sedang melinting rokok. Jumlahnya hanya 20 orang.

Pada hari-hari tertentu, seperti masa panen padi (mbawon) atau menanam padi (tandur) banyak buruh linting yang tidak masuk kerja. Sebagian besar buruh lebih memilih bekerja di sawah karena penghasilannya lebih banyak dibanding melinting rokok. Sumiyati mengatakan saat musim panen padi biasanya buruh linting yang berangkat kerja hanya 10 orang.

SatelitPost coba mendekati seorang buruh linting yang duduk menyendiri. Watini namanya, dia mengaku sudah berumur 73 tahun. Meski tak lagi muda, dia mampu melinting 700 batang rokok Sintren per hari.

Setiap 100 batang rokok, dia mendapat upah Rp 3000 yang dibayar secara kontan di hari itu juga. Uang tersebut biasanya digunakan untuk membeli sayur maupun lauk pauk tambahan untuk keluarga. Meski terbilang sangat kecil Watini mengaku tetap bersyukur karena masih bisa bekerja dan produktif.

“Nggih daripada ting nggriyo nganggur, lumayan ngge tumbas janganan, (Daripada nganggur di rumah, lumayan bisa buat beli lauk-pauk),” ujar Watini.

Bang Jo dan Togog

Edi juga tidak memberlakukan jam kerja seketat di perusahaan rokok modern. Dia mempersilakan buruh lintingnya masuk pukul 8.30 WIB dan pulang kerja pukul 13.00 atau 13.30 WIB. Pokoknya, kata dia, kalau sudah capai bisa langsung pulang. Besoknya bisa berangkat lagi untuk melinting rokok sampai dapat sebanyak-banyaknya.

Setelah cukup lama berada di ruang linting rokok, Edi mengajak SatelitPost berjalan memasuki ruangan pabrik lainnya. Di sebuah gudang Edi menunjukkan tiga alat perajang tembakau jadul warisan orangtua. Alat perajang tersebut masih berfungsi dengan baik sejak pertama kali pabrik tersebut berdiri.

Edi kemudian memperlihatkan gudang tempat menyimpan kemenyan dan tembakau yang sudah diolah dengan saus rokok. Ada juga gudang berisi alat pemotong bungkus kertas rokok atau papir. Terakhir Edi menunjukkan halaman belakang tempat menjemur akar kelembak.

Di depan tempat menjemur kelembak itu ada ruangan kecil berjendela besar. Di dalamnya ada tujuh nenek-nenek yang sedang bekerja. Ternyata mereka juga buruh linting rokok.

“Kalau mereka buruh linting rokok Bang Jo, ini masih satu keluarga dengan Sintren,” ujar Edi. Menurut Edi keluarganya memproduksi tiga merek rokok siong: Sintren, Bang Jo, dan Togog. Tiga merek tersebut memiliki pangsa pasar berbeda.

Ira, bagian marketing dan sirkulasi Pabrik Rokok Sintren, menjelaskan pemasaran rokok kelembak menyan tersebut. Sintren banyak dipasarkan di Gombong, Kebumen, kecamatan-kecamatan pinggiran Banyumas seperti Tambak, Sumpiuh, Banyumas dan sebagian Purwokerto. Di Cilacap rokok Sintren menyebar di Kecamatan Kroya dan sebagian Kecamatan Sidareja.

Rokok Bang Jo banyak dipasarkan di Kecamatan Majenang Cilacap dan sebagian Purwokerto. Sedangkan Togog menyebar di Kabupaten Purbalingga, Wonosobo, dan Magelang. Rokok-rokok ini juga dikirim ke Sumatera khususnya Jambi.

“Penjualannya tidak pasti, tapi biasanya kalau Lebaran permintaan rokok Sintren meningkat,” ujar Ira.

Edi optimistis perusahaannya akan tetap mampu bertahan memproduksi rokok kelembak menyan. Munculnya rokok-rokok kretek, putih, dan vapor (rokok elektrik) tak membuatnya gentar. Bagi dia perusahaan-perusahaan tersebut bukanlah saingan.

Menurut lulusan Fakultas Ekonomi Untar Jakarta ini yang lebih penting adalah mempertahankan kualitas rokok Sintren. Karena, kata dia, pekerja-pekerja terbaik di perusahaannya sebagian besar sudah lanjut usia. Dia mengatakan tak mudah melakukan transfer keterampilan kepada orang-orang baru apalagi anak-anak muda.

Menurut Edi anak-anak muda di Gombong tidak ada lagi yang mau bekerja di pabrik rokok tradisional. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik-pabrik rokok yang menggunakan mesin canggih. Di pabrik rokok siong seperti Sintren mereka tidak akan sabar melinting rokok satu per satu menggunakan tangan.

“Tahun ini anak saya lulus dari jurusan Teknologi Pangan UGM, Siapa tahu dia mau meneruskan usaha keluarga ini. Harapan saya Sintren mampu bertahan sampai 100 tahun, agar jadi rokok legendaris,” ujar Edi.

Di akhir wawancara Edi menyuruh Ira mengambil rokok Sintren yang sudah siap dipasarkan. Ira kemudian mengambil dua bundel (pak) rokok dan meletakkanya di atas meja tamu. Satu bundel terdiri dari 10 bungkus rokok. Dalam setiap bungkusnya terdapat 10 batang rokok.

Bundelan rokok yang pertama berwarna merah, satu bundelan lagi berwarna hijau. Ukuran rokok di bundelan merah terlihat lebih besar dan panjang. Ira tidak sempat menjelaskan perbedaan harga antara bungkus rokok yang berwarna merah ataupun hijau. Dia hanya menyebutkan harga untuk 200 batang rokok sajen itu.

“Semuanya Rp 52 ribu,” kata Ira.(*)

Agus Setiyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *