Kini, Ada Duka Dibalik Melimpah Hasil Pertanian

Lintassumsel.com, —Ujung dari gelap adalah pucuk-pucuk sinaran lampu mobil kami yang merayap perlahan, kiri kanan gelap. Gerimis malam yang sama sekali tak hadirkan dingin sehingga kami terus menyalakan AC.

Sisa-sisa konsentrasi hadir dalam lipatan dahi yang mengrenyit, kesadaran saya paksakan dengan berdendang kecil dan terus mengunyah buah Duku komering yang kami beli sore tadi, manis tak ada yang sepat.

Malam hari melewati perkebunan sawit dan karet beribu-ribu hektar dengan kondisi lampu penerangan jalan sangat minim bukan hal yang mudah. Jalan yang tidak sepenuhnya rapi itu soal lain lagi. Kami tak punya keberanian untuk memacu kendaraan lebih kencang, khawatir terjebak lubang menganga yang tertutup genangan air, Dodo, rekan saya tak henti mengoceh.

Sebenarnya ia bukan type orang banyak omong, tapi malam itu ia sadar betul mengoceh penting agar saya tak tertidur saat meyetir, ia navigator yang buruk, he he, saya menyerah, menepi masuk pelataran sebuah bangunan kami putuskan untuk istirahat.

Siang tadi kisaran pukul 13 kami berangkat dari kota muara dua. Kota subur yang sedang berbenah, mayoritas masyarakat di daerah itu petani.

Mata kami dimanjakan hamparan tanaman jagung yang begitu luas di tanah-tanah berbukit, Indah. Pada daerah-daerah berkontur datar dominan ditanami padi, terselip tanaman kacang panjang di tepi-tepi pematangnya yang tertata rapi.
Selama berada di muara dua ragam perbincangan kami dengan warga terutama mengenai pertanian. Rata-rata para petani mengeluhkan ketersediaan pupuk dan harga jual hasil panen yang tidak menentu, ternyata ada duka di balik suburnya tanah dan melimpahnya hasil pertanian di daerah ini.

Dulu, pada saat ditangani KUD tak ada ceritanya soal pupuk langka. Walau harganya mungkin lebih tinggi daripada HET (Harga Eceran Tertinggi), namun stok pupuk selalu ada di kios-kios pengecer, ujar salah seorang petani yang kami berkesempatan berbincang cukup lama dengannya. Tahun 83 ia meninggalkan daerah asalnya di Jawa, bertransmigrasi ke daerah ini. Era pak Harto.

Memanga terjadi peralihan pola pengelolaan distributor pupuk, sejak reformasi tak lagi di kelola Pusat Koprasi Unit Desa (PUSKUD) dan KUD bertindak sebagai penyalur.

Dari berbagai sumber informasi yang kami peroleh, Pak Harto, pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, telah mengeluarkan instruksi presiden yang mendorong pembentukan, pembinaan, dan pengembangan KUD di wilayah unit desa di seluruh Indonesia.

Pada masa itu, KUD yang digerakkan oleh petani dan masyarakat pedesaan menjadi pusat penyediaan alat-alat produksi pertanian, termasuk pupuk sehingga ketersediaan pupuk petani di pelosok desa pun terjamin.

Namun entah mengapa setelah Reformasi, komoditi pupuk justru dibebaskan untuk dikelola oleh pasar. Tentu saja hal utu mengakibatkan hanya pedagang berduit saja yang bisa bermain.

Tak pelak, kisah pupuk langka sering atau kerap kita dengar di mana-mana. Harga sudah mahal, langka pula, tentunya salah satu sebab dikarenakan para pedagang murni menerapkan prinsip ekonomi, sehingga bisa kita katakan menjadi penyebab kondisi petani kian termajinalkan.

Lalu, bagaimana mungkin para petani mencintaimu duhai reformasi, sementara engkau datang dengan kosmetik berlabel kapitalistik.

Wi – Ar #MerayapiSumsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *