Bagaimana Partai Berkarya Harus Memposisikan Diri?

Jakarta, Lintassumsel.com, —Hingga hari ini keputusan Prabowo Subianto untuk mengagandeng siapa tokoh untuk menjadi wakilnya masih belum jelas. Perhitungan-perhitungan politik dan analisa sah-sah saja, dan saya mencoba menganalisa dari sudut pandang Partai Berkarya, partai baru besutan Tommy Soeharto yang walaupun baru namun akar nya sudah tertancap kuat.

Siapa tak kenal keluarga Cendana. Siapa tak kenal Soeharto, presiden RI yang telah menorehkan berbagai keberhasilan pembangunanan dengan program Repelitanya, dan kini rakyat sedang merindukan kenangan-kenangan itu untuk menjadi kekuatan politik yang ikut mewarnai perpolitikan di Indonesia dalam wadah partai yang riil mengusung program-program kerakyatan.

Jika kita berhitung cermat, kemungkinan Prabowo untuk berhasil menjadikan Ustad Abdul Somad sebagai Wapres sangat tipis, sehingga, sangat logis kiranya Prabowo akan bergesar untuk menggandeng AHY sebagai wapres dengan pertimbangan antara lain adalah kuatnya faktor dukungan logistik dari Demokrat.

Namun saya meragukan jika SBY yang disebut-sebut sebagai ahli strategi tidak memahami kalau pasangan ini ( Prabowo dan AHY) akan sulit untuk menang melawan Joko Widodo yang kemungkinan besar dalam pengamatan saya akan menggandeng Mahfud MD sebagai wakilnya.

Kita pun dapat menganalisa dengan berbagai perhitungan yang diantaranya : AHY belum terlalu membumi.

Memang AHY adalah figur muda yang berkualitas, mampu, populer, tetapi masih butuh waktu panjang untuk membumikan AHY. Sehingga dapat kita katakan untuk saat ini belum bisa diharapkan mampu mendongkrak elektabilitas Prabowo Subianto secara signifikan untuk memenangkan pilpres.

Dalam pandangan saya, Jokowi kemungkinan akan meminang Mahfud MD menjadi wakilnya, mengingat perjalanan Karier Mahfud yang pernah menjadi orang dalam di tubuh PDIP.

Mahfud MD adalah mantan Ketua MK, mantan wakil ketua umum PKB, mantan Menhan, tokoh senior NU dan juga ketua KAHMI, dan satu lagi yang bisa dikatakan penting untuk kita ingat, ia juga mantan ketua tim pemenangan Prabowo Subianto pada pilpres 2014 lalu. Sangatlah lengkap pengalaman beliau untuk menjadi penguat Jokowi.

Oleh sebab itu, saya menduga manuver yang dilakukan SBY sebenarnya hanya ingin mengambil momentum untuk menaikan perolehan suara dan kursi Demokrat di Parlemen serta menaikan elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono.

Nah, lalu bagaimana dengan partai Berkarya ? Tentunya Partai Berkarya mutlak harus pandai membaca dan mensikapi hal ini.

Jika partai Berkarya akan totalfootball mendukung Prabowo tentunya akan menjadi tidak ada artinya bagi partai, karena hal ini hanya akan menguntungkan Partai Gerindra saja.

Jalan yang terbaik adalah pandai-pandai bermain di air keruh suasana pilpres untuk menaikkan citra Partai Berkarya dengan memoles dan mendukung habis-habisan caleg-caleg potensial agar berhasil memenangkan kursi legislatif, paling sedikit harus bisa melewati Parliamentary Threshold.

Namun jika Partai Berkarya gagal, maka selamanya tidak akan ada kesempatan lagi, karena kedepan yang terjadi paling banyak hanya akan ada 5 atau 7 partai Politik saja yang masih eksis di Parlemen.

 

                                                        H. Anhar.SS. MM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *