Dukung Budi Waseso, Usut, Tangkap, Oknum Mafia Beras dan Gula

 

Oleh : H. ANHAR, SE.

LINTASSUMSEL.COM, —Sesuai aturan, yang memiliki ijin impor adalah kementrian perdagangan, sah. Namun secara teknis, kementrian perdagangan untuk melakukan impor haruslah berkoordinasi dan mengacu pada data penunjang dari kementrian teknis, terkait kebutuhan pangan yang akan di impor. Dan jika kita bicara komoditi beras maka hal tersebut terkait denga kementrian pertanian.

Untuk memutuskan impor, Kemendag tentunya harus mengacu berdasarkan data yang diperoleh dari kementrian pertanian terkait dengan berapa jumlah defisit komoditi beras. Sebelum itu, kementrian pertanian akan melakukan kros cek ke Bulog terkait jumlah cadangan beras. Kemudian, data terkait permohonan impor dari kementrian perdagangan akan dicocokkan dengan data milik Bulog untuk menentukan berapa besar impor yang akan dilakukan.

Terkait dengan ribut-ribut antara Mendag dan Kepala Bulog, Budi Waseso, saya menduga ada ketidak singkronan data kementrian perdagangan dengan data milik Bulog. Sebagai Kepala Bulog, Buwas sudah menjalankan fungsi Bulog sebagai kontroling komoditi pangan.

Seharusnya sebelum melakukan impor, Kementrian Perdagangan menunggu data dari Kemetrian Pertanian Terkait jumlah kekurangan parsediaan beras yang akan diberikan oleh Bulog, kemudian dijadikan acuan untuk melakukan impor beras. Aturannya memang demikian. Tatapi, saya menduga alur koordinasi tersebut diabaikan.

Jika kementrian Perdangan melakukan impor berdasarkan data yang di terima dari bulog melalui Kementrian Pertanian maka tentu kasus ini tidak akan terjadi, mengapa?

Di era sekarang, hampir semua Mentri kemampuan mengatasi masalah bangsa hanya sebatas membuka keran impor dan membangun gedung baru kementerian. Seorang kawan berkata : “menjadi Menteri di era sekarang, tidak perlu pintar berfikir, tetapi cukup pintar membangun proyek abal-abal dan bisnis.” Rahasia umum yang memalukan.

Dengan meng import potensi terjadinya tindakan korupsi sangat besar. Melalui impor, semua barang bisa dimark-up sesuai keinginan sang koruptor. Kekurangan pasokan barang, ditutupi dengan cara impor. Tak peduli berapa banyak devisa (dolar) yang harus dibelanjakan.

Saat ini, bangsa kita masuk pada tahun politik, sebagaimana kita ketahui setiap menjelang tahun politik selalu saja ada peningkatan jumlah impor produk pangan, tentunya hal ini patut kita duga ada kaitannya dengan makelar komuditas yang bermain untuk mengejar fee dari komoditi tersebut.

Saya pribadi salut atas ketegasan sikap Budi waseso. Tentunya, beliau bersikap demikian itu berdasarkan data riil secara teknis yang dimiliki, karena kementrian pertanian penekanan fungsi tugasnya secara umum kepada produksi pertanian dalam negeri,
sedangkan Bulog pada stok atau ketersediaan pangan. Tentunya secara teknis Kemendag baru bisa melakukan impor setelah ada data terkait kebutuhan import.

Saya menyimak video Buwas di medi sosial, ia tampak gerah dan sangat marah. Dia sempat berkata; “Ini penghianatan, sudah keterlaluan.” Padahal, jumlah stok beras berlimpah, bahkan Ia sampai harus menyewa gudang tambahan untuk menampung beras impor yang didatangkan. kita wajib mendukung sikap Buwas. Selain ia bekerja sesuai dengan fungsinya, ia dengan berani tanpa tendeng aling-aling menelanjangi pola-pola kotor dalam impor komuditi pangan yang jelas akan menyengsarakan petani dan rakyat kecil.

Dalam hal ini, Buwas dengan Bulognya konsisten dan konsekwen membala petani. Sedikit menambahkan terkait informasi yang saya peroleh. Sindikat impor beras yang sedang bermain saat ini membeli beras dengan harga 5000 per kg untuk dijual seharga 10000 di dalam negeri.

Begitu juga dengan Gula, para penjahat itu membeli seharga 10 ribu untuk dijual seharga 15 ribu, bisa dibayangkan berapa Triliun yang bisa diraup mereka dari Rakyat yang kian Sengsara.

Sedangkan di sisi lain, pada media on line saya membaca bahwa petani tebu banyak yang gulung tikar karena harga dan sistem pembayaran pabrik gula yang mundur terlalu lama. Kondisi pabrik gula sendiri tentunya mengalami Kesulitan menjual hasil gilingannya karena tidak mampu bersaing dengan gula impor.

Sikap tegas Buwas adalah pintu masuk untuk memberangus mafia Impor tersebut, harus didukung. Karena merupakan kejahatan yang menghancurkan dan menyengsarakan rakyat dan bangsa, sekaligus juga menghancurkan industri gula nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *