Adil dan Makmur Ada Dalam Trilogi Pembangunan

LINTASSUMSEL.COM, — Pemberdayaan seluruh angkatan kerja Indonesia secara ekonomi adalah kunci dan prioritas dari pembangunan negara secara umum yang bertujuan kepada terciptanya masyarakat Adil dan Makmur.

Jumlah angkatan kerja yang tidak sedikit di Negara kita membutuhkan lapangan kerja yang seluas-luasnya disemua sektor industri, hal itu juga harus di dukung oleh pertumbuhan ekonomi pertahun untuk dapat semaksimal mungkin menyerap tenaga kerja tersebut.

Selain targe-t pertumbuhan ekonomi, pemerintah seharusnya juga mengupayakan solusi-solusi yang mengakar atas berbagai persoalan ketenagakerjaan yang nyata tidak dapat kita pungkiri akan berpengaruh kepada angka kemiskinan.

Meskipun semangat reformasi untuk perubahan yang lebih baik telah digaungkan sejak 20 tahun lalu, namun kenyataannya pencapaian kinerja perekonomian Indonesia saat ini tidak lebih baik dibanding masa orde baru di bawah pimpinan mantan Presiden Soeharto.

Dalam pembangunan masa Presiden RI Soeharto pada 1995-1998 angka pengangguran bisa ditekan mencapai empat persen, kemiskinan berhasil mencapai 11 persen, dan pertumbuhan ekonomi pernah menembus angka sembilan persen.

Sedangkan tahun ini, menurut BPS, terjadi peningkatan sarjana menganggur. Tahun 2018, sekitar 8% atau 660.000 dari 7 juta sarjana menganggur karena tidak dapat diserap lapangan kerja yang layak.

Salah satu hal yang disesalkan adalah bagaimana pemerintah sering tidak tepat dalam setiap penyusunan target pembangunan, namun berbanding terbalik ketika melakukan penyusunan anggaran sehingga anggaran banyak yang tidak tepat sasaran.

Pembangunan terkonsep sehingga mampu menekan angka kemiskinan dan pengangguran justru bisa kita adakan di era presiden Soeharto. Pada era itu kita mengenal Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang merupakan haluan negara tentang penyelenggaraan negara dalam garis-garis besar sebagai pernyataan kehendak rakyat secara menyeluruh dan terpadu.

GBHN ditetapkan oleh MPR untuk jangka waktu 5 tahun. Lalu penjabaran rencana pembangunannya di tuangkan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang disemangati dengan Trilogi Pembangunan dalam pelaksanaannya.

Trilogi Pembangunan adalah wacana pembangunan nasional sebagai landasan penentuan kebijakan politik, ekonomi, dan sosial dalam melaksanakan pembangunan negara yang meliputi : Stabilitas Nasional yang dinamis,
Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, dan
Pemerataan Pembangunan dan hasil-hasilnya.

Jika dibandingkan dengan program serta rencana yang akan atau telah dilaksanakan pemerintah kita saat ini dengan tiga cita-cita di atas, Trilogi pembangunan, maka bisa kita evaluasi denga membandingkan saja rilis angka BPS pada paparan di atas, sudahkah bergerak maju, jalan di tempat atau bahkan mundur ?

 

Oleh : Khoiril Anwar,

digital analisis AnNas Consultan,

7 tahun di Lembaga Penanggulangan Kemiskinan

 

 

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *