Bangsa Yang Hanya Gemar Seremonikah, kita ?

Oleh : Alwiyah Ahmad
Pelopor “Saya Sahabat Anak”

Peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli 2018 (HAN) bertajuk anak Indonesia Gesit, Empati, Berani, Unggul dan Sehat, usai kita peringati.

Di berbagai media saya simak ragam acara bertajuk sama. Lalu, timbul pertanyaan mendasar yang perlu kita tanyakan kepada diri kita sendiri ; apakah dari semua gegap gempita acara yang dilaksanakan itu kemudian hanya akan semakin membuat kita terjebak menjadi bangsa yang hanya gemar seremoni ?

Saya yakin, bahwa semua anak pada dasarnya memiliki keceriaan, kegesitan dan pasti bangga menjadi anak Indonesia.

Tetapi, mungkin pernyataan itu sedikit perlu kita balik : Bangga kah bangsa ini terhadap anak Indonesia?

Tentunya bangsa akan bangga terhadap anak indonesia jika terwujud secara menyeluruh kondisi seperti tajuk peringatan di atas, tinggal, bagaimana langkah kongkrit untuk mewujudkanya.

Saya tidak sempat mengucap kata perpisahan kepada ananda
Halifa Cania Putri. Terakhir, saat saya mengecup keningnya, ia masih terpejam. Hawa panas masih mengalir dari nafas halusnya, putri kecil berkulit putih itu terbaring lemah, demam tinggi meredupkan keceriannya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Melalui pesan whatsapp saya menerima kabar bahwa ananda Halifa telah kembali ke pangkuan pencipta, saya berusaha sekuat mungkin menahan air mata menetes. Saat menerima kabar, saya sedang berada pada satu kegiatan yang lain.

Dalam kacamata kemanusiaan saya, insya Allah kembalinya ananda Halifa kepangkuan Allah Yang Maha menyayangi adalah yang terbaik baginya.

Tidak kurang dari satu minggu saya mengalami kedekatan dengan putri Halifa. Berawal dari laporan warga mengenai kondisi yang sedang dihadapi warga, putri dari keluarga tersebut mengalami demam tinggi, kodisi serba kekurangan menjadi masalah besar bagi keluarga tersebut.

Alhamdulilah, Allah beri saya keluangan untuk ikut mengurusi Halifa.

Putri berusia tiga tahun itu terlahir dari keluarga yang kurang beruntung. Tanpa bermaksud mencederai kegembiraan nasional terkait hari anak yang kita rayakan, bahwa, potret kemiskinan di perkotaan tentunya menjadi halangan untuk mewujudkan anak indonesia yang Gesit, Empati, Unggul, Sehat, seperti yang kita semua harapkan, dan hal ini harus kita atasi bersama.

Seyogyanya, pemerintah dan masyarakat harus terus saling bahu membahu, tidak hanya untuk saling salah menyalahkan.

Semoga dengan perayaan hari anak nasional kali ini dapat menjadi pintu masuk untuk menjadikan kita sebagai bangsa yang tidak hanya gemar terhadap seremoni belaka.

lintassumsel.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *