Dari Adi Negoro Hingga Pers Nasional Indonesia Sejarah Pengamalan Pancasila

lintassumsel.com , Jakarta

Oleh: H. Anhar Nasution

Sepintas sayup-sayup kita masih teringat akan hiruk pikuk nya Peringatan Hari Pers Nasional yang dipusatkan di Sumatra Barat, dihadiri oleh Presiden Joko widodo bersama Ibu negara, serta sejumlah mentri kabinet nya.

Berbagai rangkaian kegiatan dilaksanakan mulai dari pameran kuliner ; karena ranah minang terkenal dengan masakan nya, serta pameran kerajian. Tak lupa Presiden Joko widodo mengkhususkan waktu juga untuk mampir ke suatu daerah yang sangat bersejarah bagi Putra Minang kabau, tempat kelahiran
seorang Tokoh Pers disegani dan dikenal dibelahan dunia , “Melawat ke Barat”, adalah salah satu karya jurnalistik Adinegoro yang fenomenal. Beliau Asli putra minang kelahiran Sawahlunto.

Kesan haru dan bangga tergambar dari raut wajah Presiden Jokowi tatkala mendatangi langsung dan melihat sisa-sisa puing Rumah Tua tempat dilahirkan Tokoh Pers berkaliber Dunia, Adinegoro. Rasa haru dan bangga itu pula tercermin dengan diserahkan nya Secara Simbolik Buku “Melawat Ke Barat” yang merupakan goretan pengalaman perjalanan sang Tokoh tatkala beliau mendapat kesempatan oleh Pemerintah Belanda untuk berkunjung dan menimba Ilmu ke Eropa pada waktu itu.

Ratusan exemplar Buku tersebut diserahkan kepada Keluarga besar Almarhum Adinegoro yang langsung diterima oleh Putra sang Pahlawan Jurnalis “Bung Adiwarsita Adinegoro” yang selanjutnya diserahkan kepada toloh-tokoh masyarakat tokoh politik dan Pejabat pemerintah saat acara puncak Peringatan Hari Pers Nasional yg dipusatkan pada hari jumat 9 Februari 2018 di Sumatera Barat.

Sebagai mana kita ketahui atau tokoh-tokoh Jurnalis hendaknya Harus tau bahwa Hari Pers Nasional itu diperingati berdasarkan KEPRES No 5 Tahun 1985 pada tanggal 23 Januari 1985 Pak Harto menandatangani Nya dengan amanah yang sangat Jelas tertulis “Bahwa Pers Nasional Insonesia mempunyai Sejarah Perjuangan dan Peran Penting dalam melaksanakan Pembangunan sebagai pengamalan Pancasila”.

Jika kita menyimak dan memahami kalimat Maklumat Yang tertulis dalam KEPRES ini maka Jelas bahwa Begitu besar perhatian dan kecintaan Pak Harto akan insan Jurnalis. Pers Menurut pak Harto betul-betul sebagai suluh dan pelita bagi pembagunan Bangsa yg dilandasi Pancasila, selalu saja Beliau mengkaitkan nya dengan Pancasila karena Beliau sangat paham bahwa Pancasila yang kita agung-agungkan itu, yang juga menurut kebanyakan Orang Indonesia merupakan isi pikiran Bung Karno sangat lah di agungkan dan diamalkan, dilaksanakan secara murni dan konsekwen Oleh Pak Harto ,tanpa reserve sedikitpun.

Karena, pak Harto sadar betul dan betul-betul menghargai nilai perjuangan dan sejarah Bangsa, karena pak Harto tau betul bahwa Pancasila itu merupakan Kristalisasi Nilai-nilai budaya Bangsa.

Menjadi Pertanyan bagi kita hari ini bahwa kita yang mengaku “Aku Indonesia, Aku Pancasila” namun dilain sisi tatkala Pancasila dikesampingkan dengan hiruk pikuk nya Pilkada langsung yang jelas-jelas mengesampingkan, bahkan lebih parahnya lagi, bertolak belakang dengan Sila ke 4 Pancasila dimana sistim Pilkada langsung ini jelas merupakan Sistim Demokrasi Liberal dan Kapitalis yang sangat bertentangan dengan Pancasila, lalu masih beranikah kita mengatakan “Aku Pancasila” ?

Kalau saja kita bisa melihat dan menyaksikan betapa rasanya Arwah Bung Karno, M Yamin serta Tim pencetus Pancasila yang lain , serta Pak Harto, tentunya mereka menangis dialam kubur nya melihat kelakuan kita hari ini yang dengan sengaja sudah menginjak-injak buah pikiran Luhur mereka.

Kembali kepada hiruk-pikuk nya peringatan hari Pers Nasional beberapa waktu yang lalu, tanpa sedikitpun menyisakan langkah apa yang harus dilakukan utk tidak menghilangkan sejarah panjang perjalanan dunia Pers ditanah air, kegiatan tersebut di atas hanya terkesan Seremonial semata, rutinitas tahunan, padahal jika saya tidak salah, pada saat keharuan menyelimuti presiden Jokowi, ada terbetik langkah-langkah Konkrit lebih jauh untuk dilakukan untuk memonumentarialkan Sejarah panjang perjalanan Pers Nasional kita khusus nya kepada Tokoh Sang Pejuang jurnalis Adinegoro Putra minang Kabau tersebut.

Beratkah bagi kita untuk mengakui beliau sebagai Pahlawan Nasional, susahkah bagi Pemerintah sekedar mengeluarhan Surat Yang mengakui bahwa seorang putra minang ini adalah Pahlawan Nasional. Beratkah Bagi Negara membangunkan sekedar monumen bagi tokoh Jurnalis Besar ini?
Sementara berbagai penghargaan dibidang jurnalistik selalu menyebut nama Penghargaan Adinegoro ataukah kita ingin melupakan Sejarah Jurnalisme di tanah air ?

Tanpa sadar jika ini yang kita lakukan, yakinlah bahwa satu Pilar bangsa yakni Jurnalistik akan patah, ambruk yang selanjutnya akan diikuti runtuh nya bangunan yang bernama NKRI, semoga Allah Tuhan Yang Maha Kuasa melindungi Bangsa ini dari kehancuran.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *