Evaluasi Dua Puluh Tahun pasca Reformasi

Jakarta, lintassumsel.com 

Oleh: H. Anhar Nasution.

(Ketua Umum Satgas Anti Narkoba)

Suharto punya kesalahan? Ya, Pasti. Karena Beliau manusia biasa. Namun jika kita mau berpikir secara jernih dan hati yg tulus dengan mengedepankan moral dan etika ketimuran yang selalu dijunjung tinggi oleh beliau, , maka kita dapat menganalogikan bagaimana sosok Suharto seharusnya kita tempatkan di hati dan pikiran kita.

Soeharto memang memiliki segelas kesalahan namun Beliau memiliki se Sumur kebaikan.Jasanya tidak begitu banyak pada rakyat, bangsa dan negara Indonesia.

Di mata rakyat korban opini sesat, Soeharto adalah koruptor terbesar sepanjang masa. Satu contoh opini sesat yang saya maksudkan, kita dapat temui pada artikel di majalah internasional TIME, memuat Laporan Utama, menuduh Soeharto menumpuk kekayaan sampai dengan USD 15 milyar kala itu.

Belakangan hari kita temuai fakta bahwa TIME terbukti menyiapkan serta meyebarkan HOAX terkait apa yang ditulisnya.

Terbukti, berbagai tim khusus pemburu Harta Suharto dibentuk, kerja keliling dunia mencari harta hasil korupsi Suharto yang isunya sengaja dihembuskan media barat dan para penghianat, tidak terbukti.

Padahal total biaya yang dihabiskan tim khusus ini lebih besar tiga kali lipat dari saldo rek gaji Suharto selama 32 tahun menjadi presiden, syah dengan tegas saya berani katakan ; Suharto terbukti tidak korupsi.

Dua puluh tahun berlalu sejak pak Harto lengser keperabon, Presiden yang memimpin negeri tercinta ini silih berganti, namun carut marut makin menjadi jadi. Prilaku pejabat makin korup, korupsi semakin menggila hampir disemua lini pemerintahan, Saya tidak mengatakan pada zaman Pak Harto berkuasa tidak ada korupsi, kita bisa membandingkan dengan keadaan saat ini.

Satu kisah, jika dahulu ada salah seorang mentrinya atau pejabat di era pak Harto kedapatan menyalah gunakan jabatan dan anggaran, dan pak Harto memanggilnya bisa dipastikan oknum tersebut kencing di celana, penyalah gunaan anggaran, bukan tidak ada,tetapi terkendali, tidak seperti saat ini.

Hal lain bisa kita rasakan dari kehidupan masyarakat saat itu, pertainian unggul, listrik terjangkau, bahan pangan terpenuhi.

Pada era pak Harto, beliau sukses menjalankan pembangunan nasional. Hal itu dibuktikan dengan laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) rata-rata 7,6 persen per tahun. Pembangunan infra struktur di Indonesia hingga kini sembilan puluh persen adalah warisan pembangunan era pak Harto.

Bangsa Indonesia di awal kemerdekaan, menghadapi inflasi hingga mencapai 650 persen, namun dengan penanganan yang tepat, dibawah kepemimpinan pak Harto, inflasi dapat ditekan hingga di bawah 12 persen dan keberhasilan itu dicapai hanya dalam kurun waktu dua tahun saja.

Dibidang Agama khusus nya bagi umat Islam sebagai penduduk mayoritas Pak Hartontelah berjasil membangun 999 masjid di seluruh Indonesia yang dibangun atas dasar inisiasi pak Harto.

Indonesia sebagai negara agraris, mampu mencapai keemasannya di bidang pertanian, Indonesia menjadi negara peng ekspor beras yang cukup disegani di Dunia.

Berita terbaru kita baca di seluruh media nasional, dimana panen Raya sedang berlangsung, tatapi kebijakan pemerintah justru menambah quota import beras, apa yang salah di bangsa ini Apa demikian itu wujud kerpihak kepada Rakyat.
Belum lagi kita saksikan bagaimana carut marut nya di sektor politik, ketidak pastian dibidang hukum dan kehidupan masyarakat yang mengarah kepada A moral, kejahatan Narkoba meraja lela dan kerusakan-kerusakan lain nya yang menghiasi Perjalanan Bangsa ini.

Belum lagi masaalah adanya situasi ketidak berpihakan kepada umat Islam sebagai penduduk mayoritas. Dari sektor ketenaga kerjaan, dimana tenaga kerja asing menyerbu dengan leluasa, ditmbah pula import barang, makanan, buah2an menggila, lalu bagaimana kita mau bicara ketahan pangan, apalagi kemakmuran, jika kesetabilan politik saja tidak mampu diwujudkan ?

Setelah dua puluh tahun berlalu, sejak pak Harto memutuskan untuk mengundurkan diri, kita mengenangnya kini. Kita merasakan bagaimana kerinduan akan sosok pemimpin yang bekerja dengan hati bagi rakyatnya, bekerja dengan keiklasan yang muncul dari jiwa besar lagi bersih.

Saya sedikit mengangkat cotoh mengenai figur-figur besar bangsa ini. Soekarno, hingga kini di puji-puji oleh para Soekarno Is, Gusdur, ada kelompok orang-orang yang menyebut diri Gusdurian, direnda renda, dielukan, dipuji puja.

Tentunya amatlah tidak bijak dan beradab ketika kita tidak merasa penting berterima kasih atas jasa pak Harto bagi bangsa ini .

Keberhasilan yang saya rincikan di atas hanya secuil dari begitu banyak hal yang dilakukan pak Harto bagi rakyat dan bangsa Indonesia.

Soekarno dipuja-puja, Gusdur dielu-elukn, oleh sebab itu sudah sepantasnya bapak pembangunan kita, Soeharto, kita muliakan kembali namanya. Kita angkat sepirit beliau sebagai motifasi untuk kembali membangun Negeri ini dengan semangat gotong royong yang selalu Beliau gaung-gaungkan, keindonesiaan seutuhnya. Keindonesiaan adalah Sohartoisme.

Dengan mengambil sisi baik nya pemerintahan Soeharto kita bangun Bangsa ini, jika kita mengacu pada pepatah yang mengatakan “masa lalu itu hanya Indah untuk dikenang, tidak untuk diulangi kembali “, maka saya akan mengatakan ; kita tidak sedang bicara mengembalikan orde baru, kita sedang bicara bagaiman kembali menumbuhkan spirit Soeharto dalam membangun negeri tercinta ini.

Kita sedang bicara kembali kepada keindonesiaan, kita mengembalikan moral masyarakat ketimuran, kita mengembalikan semangat gotong royong, kita mengembalikan kecintaan pada petani dan rakyat.

Sejatinya amatkah penting untuk kita bersama kembali menguatkan akar asah, asih, asuh, berkarya membangun Indonesia, dengan semangat Sohartoisme kita berkarya membangu peradaban yang dilandasi moral dan etika ketimuran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *