Fanatisme Dalam Islam Menjaga Toleransi

Hidup sebagai muslim yang shalih atau mati sebagai syuhada”, syuhada adalah bentuk plural dari syahid atau mati sebagai orang-orang yang syahid. Dalam ajaran Islam, syahid adalah cita-cita dan ganjaran tertinggi umat Islam ketika sampai pada akhir hayatnya karena telah berjihad selama hidup di dunia.

Makna Jihad itu sendiri sangatlah luas. Seorang ibu yang berjuang melahirkan anaknya, seorang pemimpin yang memperjuangkan kepentingan umat dan masyarakatnya, seorang kepala rumah tangga yang berjuang menafkahi keluarganya, dan masih banyak lagi lainnya.

Namun mengapa kemudian makna syahid direduksi sedemikian rupa menjadi hanya sebatas orang yang mati dalam sebuah peperangan atau mirisnya lagi mati sebagai martir bom bunuh diri.

Paradigma keliru ini seharusnya sama-sama dibenahi oleh intelektual muslim, dan media massa yang termasuk sebagai salah satu instrumen untuk mencerdaskan generasi-bangsa semestinya bisa memberikan pengetahuan terhadap makna jihad sesungguhnya, alih-alih memberikan stempel se-enak mereka dengan kacamata pengetahuan ajaran syariat Islam yang minim.

Belum lama saya berpisah dengan seorang kawan, ia beragama katolik. Kami berkumpul bersama dalam satu pekerjaan tidak kurang dari tiga bulan lamanya, saya satu tempat tinggal juga satu tim yang saling terkait di dalam pekerjaan kami, pendeknya siang malam berkumpul.

Ragam topik pembicaraan kami bahas selama berkumpul.
Ia bertanya kepada saya mengenai fanatisme keagamaan, tentunya dalam sudut pandang saya sebagai seorang muslim. Menurutnya, fanatik adalah pangkal dari sikap intoleran.

Saya muslim dan saya fanatik. Fanatik dalam islam diharuskan dan makna fanatisme itu bukanlah suatu hal yang buruk, salah, dalam memeluk suatu keyakinan. Islam mengharuskan seorang muslim untuk fanatik terhadap agamanya.

Seperti makna syahid yang tereduksi dengan sangat dangkal, dalam pemahaman umum, fanatisme juga menjadi kalimat yang hanya dikonotasikan secara negatif saja, apalagi jika kalimat tersebut disandingakan dengan Islam, maka akan condong diartikan sebagai tindakan, penyebab timbulnya sikap atau prilaku intoleran.

Toleransi tentunya bukan berarti kita harus menyamakan perbedaan terlebih lagi jika itu menyangkut keyakinan keberagamaan. Dalam hal ini, maka, makna fanatisme adalah; keharusan berpegang teguh kepada keyakinan yang kita yakini dengan sungguh sungguh.

Dalam islam sangat jelas bagaimana fanatisme justru menjadi bagian yang mendorong seorang muslim untuk bersikap toleransi, bukan sebaliknya. ‘Lakum dinukum waliadin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

Contoh kutipan di atas sangat jelas bahwa Islam memberi batasan akan fanatisme, lebih kepada self, diri sendiri, dan tidak cawe-cawe terhadap keyakinan agama lain, jernih ; pondasi dasar dari sikap dan prilaku toleran.

Seorang muslim harus fanatik terhadap keyakinannya, tetapi salah besar jika mengartikan fanatisme seorang muslim akan berujung kepada tindakan terorisme.

Menyandingkan kalimat fanatisme dengan konotasi negatif terlebih lagi dengan tindakan terorisme yang dilakukan oleh segelintir orang yang beragama islam sangat tidak tepat, karena sejatinya Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam semesta.

(Okky ardiansyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *