Framing Negatif Media

 

LINTASSUMSEL.COM,–Media merupakan salah satu pembentuk opini yang paling hebat. Karena media dapat memfokuskan perhatian publik dan memengaruhi persepsi publik tentang apa yang menjadi isu penting. Kemampuan mempengaruhi dan mengarahkan publik agar berpikir tentang isu tertentu, sehingga menjadi prioritas pemikiran dan topik pembicaraan, dikenal sebagai peran penempatan agenda media.

Karena publik cenderung akan menjadikan sebuah informasi yang disampaikan dan diulang secara terus menerus menjadi sebuah fakta, entah itu merupakan fakta yang valid atau memang fakta yang sengaja direkayasa.

Media bukanlah sarana netral yang menampilkan berbagai ideologi dan kelompok apa adanya, media adalah subjek yang lengkap dengan pandangan, kepentingan, serta keberpihakan ideologisnya.

Media berpihak pada kelompok dominan, menyebarkan ideologi mereka sekaligus mengontrol dan memarginalkan wacana dan ideologi kelompok-kelompok lain. Kelompok-kelompok dominan inilah yang akhirnya mem-blow up berita-beita terorisme islam dan menjadikan isi beritanya seolah-olah islam adalah agama radikal dan penuh dengan makna terror dalam ajarannya.

Keberadaan media yang begitu dekat dengan berbagai kalangan masyarakat dan begitu mendominasi inilah yang akhirnya menjadi salah satu pemicu terbentuknya pemikiran atau cara pandang baru terhadap sebuah masalah atau isu yang diangkat, salah satunya tentang Islam dan Terorisme.

Pemikiran publik yang mulai di racuni oleh berbagai testimoni tentang terorisme islam berdampak kepada tanggapan publik sendiri tentang islam dan kaum muslimin, hal ini tentu saja pada akhirnya menciptakan spekulasi antar sesama kaum muslim untuk melahirkan sikap saling curiga di tengah-tengah umat, bahkan bisa memunculkan sikap saling memfitnah.

Sikap ini jelas-jelas sangat tidak terpuji dan diharamkan oleh Islam. Kemudian selain itu hal ini akan melahirkan tindakan melawan hukum terhadap pihak lain hanya karena curiga atau rasa khawatir yang berlebihan, main hakim sendiri.

Dan bahkan yang paling tragis melahirkan rasa takut di kalangan umat Islam terhadap agamanya sendiri, hingga tak heran jika sesama kaum muslimin sendiri sering terjadi ghibah dimana biasanya para muslim yang sedang berusaha untuk kaffah dan istiqomah menjadi sasaran caci bahwa mereka adalah teroris.

(ardi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *