Kami Bisa Begini ini Karena Pak Harto

lintassumsel.com, opini, —Soeharto adalah nama yang tak bisa dilupakan jika kita bercerita soal kesuksesan warga transmigran program PIR alias perkebunan inti rakyat

Dari program transmigran PIR yang dibuat pada era Presiden RI kedua itulah ribuan KK yang ditempatkan di Pelelawan, Riau, kini menikmati kesejahteraan. Coba tanyakan kepada mereka, siapa orang yang paling berperan terhadap keberhasilan mereka, maka , tanpa ragu mereka akan mengakatakan, “Yang membuat kami begini ini Pak Harto.

Rahman berkisah, Rata-rata warga transmigran memiliki 2 hektare kavling sawit, lahan dan sawit itulah yang membuatnya bisa menyekolahkan dua anaknya ke Universitas Gadjah Mada.

Bagi Racmat, tujuannya ikut transmigran memang untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya, kalau perlu ke luar negeri. Salah satu anaknya pernah mengenyam pendidikan singkat selama 6 bulan di Jerman.

Dua hektare lahan itu merupakan jatah awal, dan kini banyak warga yang telah memperluas lahannya. Dahri, misalnya, warga asal Pemalang yang datang ke Pelalawan pada 1988 itu kini memiliki puluhan hektare lahan sawit dan mampu menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi. Rumahnya pun terbilang mentereng dan beberapa mobil terparkir di halaman.

Warga transmigran lain ada yang memiliki lahan hingga 100-an hektare. Perluasan lahan dari 2 hektare ke puluhan bahkan ratusan merupakan imbas dari bagian lahan yang ditinggal warga transmigran awal yang pulang kembali ke Jawa. Ada pula yang menambah dengan membeli lahan semak atau membuka hutan.

Rachmat bercerita bahwa awal kedatangan mereka ke wilayah yang dahulunya hutan ini bukan perkara mudah, banyak juga transmigran yang tidak kuat. Sekitar 40% warga transmigran akhirnya pulang kembali ke kampung halaman. “Transmigran itu kan seperti dibuang.”

Bagi mereka yang bertahan kini diganjar dengan kesejahteraan. Bahkan, ketika krisis moneter melanda Indonesia pada 1998/1999, petani sawit menikmati betul tingginya harga. Pendapatan Rp10 juta sebulan bisa didapat Rachmat yang hanya memiliki 2 hektare lahan sawit.

Warga transmigran ini sekarang dikenal sebagai tauke sawit. Mereka bukan lagi warga ‘buangan’ yang harus bergelut dengan kemiskinan. Banyak di antaranya telah mengenyam pendidikan tinggi, bahkan hingga S2 dan S3.

Masyarakat merasakan betul peran sawit plasma terhadap kemajuan wilayah dan pendidikan warga sekitar. “Saya hidup dari sawit. Sekolah ke Jogja juga karena sawit” , kalimat demikian tak asing kita mendengarnya. Keberhasilan program transmigrasi tidak hanya berdampak kepada satu atau dua hal saja tetapi, program kerakyatan yang dimulai oleh presiden Soeharto ini mampu memberikan dampak panjang terhadap kesejahteraan rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *