Kandidat dan Sosial Media. Jangan Sampai Letoy

 

Palembang, LintasSumsel.com —Skrol up and down, sosial media dipenuhi konten politik, apa saja menjadi wajar dikaitkan dengan politik. Vidio pendek, meme lucu menggelitik, dan rupa-rupa status satire, maupun yang sifatnya membranding image diri dengan tujuan mendapat dukungan publik.

Sosial media beberapa tahun kebelakang memang menjadi trend kampanye, bisa dikatakan di semua aplikasi sosial media tak luput digunakan para kandidat untuk membrending diri pun mensosialisasikan program yang ditawarkan.

Penggunaan media sosial sebagai sarana kampanye memang sudah tidak mungkin dihindari lagi. Media sosial memungkinkan bagi para kandidat untuk dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat. Dengan manfaatkan Sosial media kandidat dapat memaparkan ide serta program riil time, faktor biaya pun dapat ditekan.

Selain beberapa faktor tersebut, politisi tentunya juga sangat paham bahwa sebagian besar pengguna sosial media adalah anak muda atau generasi milenial, yang bisa dikatakan sudah ogah untuk menghadiri kampanye dialogis yang sifatnya out door, panas kepanasan, hujan basah kuyup,cape dech. Tentunya untuk dapat meraih suara pemilih muda itu maka berbondong bondonglah para kandidat melakukan kampanye atau membrending dirinya melalalui media sosial.

Namun media sosial dengan segala dinamikanya bukan medan yang mudah untuk ditaklukkan. Media sosial dapat menjadi Land of War mengerikan yang dengan seketika juga bisa men-downgred Citra tokoh atau kandidat. Hehe thats its truth brow. Cyber Bully, Hoax, ujaran kebencian, juga tak bisa dihindari.

Telah banyak ditulis oleh media nasional yang merilis hasil penelitian mengenai tipikal generasi milenial. Generasi zaman now yang cenderung anti dengan politik, generasi yang ke-akuannya dominan ini tidak mudah untuk diraih minatnya kemudian diarahkan untuk memilih. Dibutuhkan pendekatan yang baik, tepat, informatif namun asik, tidak norak dan tentunya memiliki kesamaan idealisme dengan mereka.

Beberapa politisi di Negeri ini yang berhasil memanfatkan media sosial sebagai medium memdongkrak Citra dirinya dengan pendekatan yang tepat adalah politisi-politisi yang mampu mengelola akun sosial media pribadinya untuk berkomunikasi interaktif dengan masyarakat. Konten-konten yang tidak membosankan, humanis dan tidak jarang bernada joke yang informatif lebih bisa diterima generasi Milenial.

Sebut saja Ridwan kamil. Walikota Bandung ini berhasil meraih simpati kaum muda kota Bandung dengan pendekatan-pendekatan-nya melalui media sosial twiter dan facebok, bahkan beliua, kang Ridwan kamil, termasuk politisi yang juga menyandang predikat selebritis di sosial media.

Di Sumatera selatan, figur Dodi Reza Alex Noerdin, bupati muda Musibanyuasin yang saat ini juga turut berlaga dalam kontestasi Pilgub Sumatera Selatan yang banyak pihak memprediksi memiliki peluang besar untuk memenangkan pilkada Sumsel. Dengan berbekal berbagai capaian kesuksesan dan juga pengalamannya selama menjadi wakil rakyat di DPR RI serta kesuksesannya dalam waktu singkat melakukan percepatan pembangunan di kabupaten Musibanyuasin.

Politisi muda partai Golkar itu juga tergolong aktif dalam mengunakan media sosial Faceboke, Twiter juga Instagram yang sebagian besar punggunanya adalah anak muda, generasi melanial. Dodi tak canggung untuk mensosialisasikan berbagai kebijakan serta program unggulannya untuk mempercepat lompatan kemajuan di Sumatera selatan dengan menggunakan kalimat-kalimat bersahabat, yang membumi menyentuh segala lapisan masyarakat.

Untuk meraih hasil sesuai dengan yang diinginkan, tentunya para kandidat tidak dapat bekerja megelola chenel sosial medianya sendiri, ia membutuhkan tim medsos yang tangguh dan menguasai seluk beluk berbagai chanel medsos. Tim ini yang akan menganalisa jalannya kampanye di medsos ,memberi advis dan tak jarang bertugas mengamati pergerakan kompetitor.

Yoi, ibarat hendak bertempur di era moderen sosial media adalah peranti atau senjata yang efektif untuk persaingan memperebutkan hati pemilih. Perangakat kampanye off line seperti baliho/bener saja tidak cukup, zaman sekarang sudah menuju online. Jangan sampai malah anda menjadi kelabakan untuk menangkis serangan kompetitor melalui medsos hanya gara gara tim medsos anda letoy. (A/a)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *