Kaos dan Dolar. Keduanya Meroket.

 

Palembang, LintasSumsel.com,–Presiden Jokowi pada awal kepemimpinannya pernah mengatakan ; “Ekonomi kita, Indonesia, akan segera meroket”.

Saya pribadi sempat surpraise dengan apa yang dikatakan beliau. Bagaimana tidak, dari sekian kali kita ganti presiden, sejak orde baru ditumbangkan mahasiswa, rasanya saya belum merasakan ada perubahan. Bayangan kemajuan yang akan kita raih saat berpeluh peluh, berteriak, menenteng megaphon, dua puluh tahun yang lalu, belum tercermin sama sekali.

Jika Reformasi terwujud, Soeharto tumbang, maka lapangan kerja terbuka lebar. Kebebasan berekspresi menyuarakan pendapat bebas merdeka, hingga yang terpenting, lenyapnya korupsi dari muka bumi Indonesia sehingga anggaran negara akan dapat digunakan dengan tepat sasaran dan Indonesia akan masuk deretan negara makmur bersanding dengan negara maju lainnya.

Masalah-masalah ekonomi, pelayanan kesehatan, pendidikan, ketersediaan lapangan kerja bagi rakyat yang sejatinya menjadi pokok keinginan rakyat untuk diatasi tak kunjung terpenuhi. Justru yang terjadi malah sebaliknya. Tercatat pada bulan maret 2017 jumlah penduduk miskin di Indonesia bahkan telah mencapai 27,77 juta jiwa.

Jumlah tersebut setara dengan jumlah keseluruhan penduduk Korea Utara. Pada tahun yang sama, transparacy internasional merilis indeks persepsi korupsi negara-negara di dunia, dari 180 negara, Indonesia berada di posisi 96 yang artinya tidak ada perkembangan untuk mengakhiri prilaku korupsi. Belum lagi mengenai nilai rupiah yang juga semakin tertekan. Tentunya beberapa hal tersebut di atas merupakan kendala-kendala yang menyebabkan ekonomi kita di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi mustahil untuk bisa meroket seperti yang dikatakan beliau.

Tetapi bukan berarti semua hal dari apa yang dikatakan presiden kita mengenai meroket itu salah, buktinya saat ini, nilai dolar terhadap rupiah meroket menyentuh level tertinggi, joke satire dari seorang kawan.

Pada maret 1966 Indonesia memasuki pemerintahan orde baru dan perhatian lebih ditujukan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan ekonomi dan sosial, dan juga pertumbuhan ekonomi yang berdasarkan system ekonomi terbuka sehingga dengan hasil yang baik membuat kepercayaan pihak barat terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Sebelum rencana pembangunan melalui Repelita dimulai, terlebih dahulu dilakukan pemulihan stabilitas ekonomi, social, dan politik serta rehabilitasi ekonomi di dalam negeri. Selain itu, pemerintah juga menyusun Repelita secara bertahap dengan target yang jelas, IGGI juga membantu membiayai pembangunan ekonomi Indonesia.

Dampak Repelita terhadap perekonomian Indonesia cukup mengagumkan, terutama pada tingkat makro, pembangunan berjalan sangat cepat dengan laju pertumbuhan rata-rata pertahun yang relative tinggi.

Keberhasilan pembangunan ekonomi di Indonesia pada dekade 1970-an disebabkan oleh kemampuan kabinet yang dipimpin presiden dalam menyusun rencana, strategi dan kebijakan ekonomi, tetapi juga berkat penghasilan ekspor yang sangat besar dari minyak tahun 1973 atau 1974, juga pinjaman luar negeri dan peranan PMA terhadap proses pembangunan ekonomi Indonesia semakin besar. Akibat peningkatan pendapatan masyarakat, perubahan teknologi dan kebijakan Industrialisasi sejak 1980-an, ekonomi Indonesia mengalami perubahan struktur dari Negara agraris ke Negara semi industri, Indonesia “Meroket”.

Dalam 20 tahun erea roformasi, presiden silih berganti, namun belum ada capaian pembangunan se meroket yang dilakukan pemerintahan Soeharto. bahkan infra struktur yang ada di indonesia hari ini 90 persen adalah warisan pembangunan orde baru.

Sebagai tambahan latar. Pemerintahan orde baru di bawah kepemimpinan Soeharto mengalami masa transisi yang berat, dimana pada era pasca kemerdekaan, Indonesia mengalami kondisi yang babak belur. Inflasi melonjak hingga 650 persen. Indonesia juga menjadi negara importir beras terbesar di dunia. Tentunya bukan tantangan yang mudah untuk membalikan keadaan.

Tahapan-tahapan perbaikan ekonomi dilaksanakan dengan baik dan tepat sasaran. Dalam dua tahun kepemimpinan Soeharto tingkat inflasi dapat ditekan hingga menjadi 12 persen, sebuah capaian yang luar biasa. Indonesia pun pada era itu mampu membalik keadaan menjadi negara eksportir beras terkemuka di dunia.

Tentunya segala capaian itu juga tidak lepas dari berbagai kekurangan. Setiap pemerintahan selalu menyisakan permasalahan yang harus di selesiakan oleh pemerintahan selanjutanya.
Idealnya, pada era pemerintah selanjutnya seyogyanya terjadi perbaikan dalam semua sendi bernegara. Perubahan yang menuju kemajuan.

Tentunya menjadi pertanyaan besar bagi kita saat ini ; apakah yang telah dilakukan pemerintahan saat ini sudah mencerminkan perbaikan dalam semua sendi kehidupan bernegara? Apakah figur pemimpin saat ini sudah sesuai untuk menahkodai kapal besar bernama Indonesia ini. Saya pribadi menyimpulkan tidak dan belum.

Gerakan Rakyat dengan hasteg #2019 Ganti Presiden makin masif disuarakan semua lapisan masyarakat. Baju kaos bertuliskan tegar tersebut menjadi bentuk protes tegas akan ketidak mampuan presiden dalam menahkodai negeri ini. Semoga saja penguasa di tahun politik ini bisa memilih dengan tepat, galau karena kaos oblong bertulikan tegar ganti presiden atau galau dengan nilai dolar yang semakin jauh meninggalkan rupiah. Kualitas kelayakan anda dalam memimpin sedang diuji wahai tuan presiden.
(ardi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *