Karung Jumbo , Listrik ,dan Sesekali Menonton Presiden di TV

Karung plastik ukuran jumbo 3 atau mungkin 4 kali lebih besar dari karung jumbo yang anda bayangkan. Karung besar itu gabungan dari beberapa karung plastik yang dijahit menjadi satu menggunakan tali rumput Jepang (rafia).

Tampak karung itu diseretnya menuju bedak ( tempat berteduh sederhana beratap lembaran spon matras bermotif karakter kartun, bertulang rangka dari bambu, semacam balai-balai yang biasa kita lihat di persawahan ), sekitar 30 meter dari tempat penampungannya.

Karung itu berisi bermacam sampah kering plastik padat. Tampak isi yang lebih dominan di dalamnya beraneka botol sisa minuman kemasan, kemudian karung direbahkannya. Ibu itu lalu duduk santai di atas kotak krat plastik berlebel minuman teh botolan produk nasional.

Dengan terampil ia memilih satu demi satu botol-botol plastik yang ia keluarkan sedikit demi sedikit dari dalam karung jumbo yang ia rebahkan tadi.

Botol hijau ia lempar ke keranjang bambu yang sudah disiapkan, botol biru di keranjang khusus biru, botol berwarna bening pun diperlakukannya sama, dilempar ke keranjang tersendiri.

“Nek dipilah ngene hargane bedho mas (kalau dipilah begini, harga jaulnya beda ) “, si ibu menjawab pertanyaan saya.

Ooo gitu ya bu ?

“Iyo mas, saya pilah berdasarkan warna dan jenise mas. Kayak tutupe iki, terus botole, masio (walaupun ) sama biru tapi ndak sama jenise, kalau digiling malah ndak payu (tidak laku), mas”.
“Iki jenise bedo, nek tutup iki (kalau tutup ini) jenis plastike HD nek (kalau) botole (botolnya ) PET”, ujarnya menambahkan keterangan, sambil tangannya dengan terampil tak henti membuka tutup botol, melemparnya ke ember khusus tempat tutup botol, tak jarang ia juga menyayat dengan sepotong pisau kecil berkarat lebel merek yang masih tertempel pada botol bekas.

Ibu itu bekerja di pabrik kecil penggilingan plastik bekas, dengan gaji terhitung borongan lepas, tanpa tunjangan apapun.

Pabrik plastik yang mengolah segala macam jenis plastik bekas yang sering kita temui di pengepul barang loak. Rantai jualnya dari pemulung menjual hasilnya ke pengepul kemudian pengepul mengirim ke pabrik pengolahan semacam ini.

Pekerja khusus kemudian melakukan proses pemilahan sesuai jenis. Proses selanjutnya setelah dipilah kemudian digiling cuci dengan mesin khusus sampai menjadi serpihan kecil, dan masih panjang lagi rangkaian proses selanjutnya.

Pada akhir proses, plastik bekas tadi menjadi bentuk bijih plastik kecil sebesar bijih beras untuk dijadikan bahan baku produk berbahan plastik kembali.

Borongannya dihitung bagaimana bu, ujar saya bertanya.

“Dihitung per kilo mas, per kilone (perkilonya ) 500,- jadi saben (tiap) sore ditimbang barapa hasil pilah saya, terus dibayar”.

Biasane saget angsal pinten kilo (bisanya bisa dapat berapa kilo ) bu?

“Ya ndak mesti mas, tergantung, nek bisa cepet yo lumayan.

” nek kulo (kalau saya) biasane paling iso oleh ( paling bisa dapatnya ) sak kwintal (1 kwintal), yo oleh (ya dapat) uang 50 ribu lah, mas”.

“seng abot iku (yang berat itu ) saiki kebutuhan larang kabeh mas (sekarang kebutuhan mahal semua)”

“nek kerjo berat wes biasa, tapi saiiki ora cukup, mas.” “Hasil e digawe nutupi butuh ae kurang. (Kalau kerja berat sih sudah biasa ,tapi sekarang hasilnya dibuat nutup kebutuhan aja kurang)”.

Saya tidak melanjutakan lagi berbincang dengan ibu itu, ada rasa khwatir mangganggu kerjanya, jelas kecepatan memilah dibutuhkan untuk bisa dapat hasil sesuai, dan saya khawatir mengganggunya jika berbincang terlalu lama, saya berpamitan.

Dari apa yang ia ceritakan, rasanya memang akan berat hidup yang dijalani si ibu, dengan hasil kerja yang seperti ia ceritakan.

Si ibu tak mengetahui soal-soal pelemahan rupiah, ia tak mengerti mengenai ratusan triliun uang pajak hangus untuk membayar bunga hutang pemerintah, ia hanya tahu, harga barang pokok makin mahal, dan 200 ribu tak cukup lagi untuk membayar listrik se bulan yang menurutnya hanya ia pakai untuk lampu penerangan dan sesekali menonton pak Jokowi di TV.

Okky Ardiansyah
Masyarakat Pencinta Soeharto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *