Keluarlah Dari Zona Nyamanmu, Jendral. Jadilah Sedikit Nakal !

 

Oleh : H ANHAR, SE
Politisi Partai Berkarya

LINTASSUMSEL.COM,-Dalam sebuah pertempuran, tidak ada kata menyerah dalam bertarung, saya rasa kalimat itulah yang selalu menjadi penyemangat Prabowo untuk tak pernah gentar menghadapi pertarungan politik yang selalu menjadi jalan hidupnya, tetapi apa cukup hanya dengan bermodal itu?

Sebagai tokoh Nasional yang namanya berkibar semenjak Pilpres 2009 lalu, tentu pamor seorang Prabowo mengalami beberapa kali pasang surut. Namun, posisi oposisi bagaikan identitas yang tak pernah luntur dalam diri seorang Prabowo, dan pertempuran 2019 kembali Prabowo dipercaya untuk maju oleh koalisi partai yang susunannya tidak jauh berbeda dengan 2014 lalu, minus partai Golkar.

Nama Prabowo kembali melambung ketika kemenangan Anies-Sandi yang telah diperjuangkannya pada Pilkada DKI Jakarta 2017 bersama koalisi setianya, PKS. Mungkinkah kemenangan Anies-Sandi akan menambah daya tawar Prabowo pada pilpres 2019 ini, jawabannya, iya, manakala dalam dinamika yang ketat kita ketahui tarik ulur posisi cawapres, dan Prabowo mampu bersikap untuk memilih Sandiaga Uno sebagai wakil, dan bagi saya ini tahap awal perubahan sikap Prabowo, ia sudah bertransformasi menjadi politisi, tidak hanya jendral Kopasus saja.

Posisi DKI, tetap dipercayakan pada Anies, Prabowo tak terpancing permainan untuk menggandeng Anis sebagai wakilnya, karena DKI terbilang strategis. Terbaru, ia membatalkan semua ijin Proyek Reklamasi, tentunya point plus buat prabowo juga, kaum kecil dan terpinggirkan tersenyum.

Akan tetapi untuk 2019 ini, mampukah Prabowo melawan dominasi Jokowi yang tak bisa dipungkiri sebagai patahana tentunya memiliki dukungan ekstra, sampai ke daerah-daerah.

Bahkan kita ketahui, tanpa malu-malu beberapa kepala daerah dengan terang-terangan mendeklarasikan dukungan kepada JKW, memang tidak semua, tetapi patut diduga terjadi, misalnya : transfer dana daerah dipersulit saja oleh pusat untuk menekan kepala daerah agar mau untuk all out mendukung Patahana, tentunya potensi itu, ada. Sebab itu, koalisi Pendukung Prabowo memerlukan strategi jitu jika ingin menang.

Belum lagi jika kita menyoal terkait IT KPU, apa ada jaminan tidak akan terjadi kecurangan di zona ini? Sedangkan, kami sejak 2015 sudah menyuarakan melalui berbagai media dan sosial media mendorong untuk dilakukannya Digital Forensik IT KPU, apa pernah dilakukan? Padahal seharusnya hal krusial seemacam ini harus terus diperjuangkan, gugat, sebelum bertanding.

Sudah bukan rahasia lagi, kecurangan sudah tampak di depan mata, mulai dari curi start kampanye dengan bertebarannya baliho di mana-mana sebelum jadwal, hingga iklan di gedung theater, mereka sudah tidak peduli dengan etika, kata orang Jawa: “mbudek, tur rai gedek” dan upaya untuk menuntut tindak kecurangan itu mentah begitu saja.

Partai pendukung Prabowo mutlak harus terjun ke daerah-daerah, tidak bisa lagi hanya mengandalkan eforia gerakan #2019GantiPresiden, tetapi mampu menjelaskan ke masyarakat desa, pelosok, pesisir : Mengapa kita harus ganti presiden? Dan tentunya membawa gagasan riil yang menyentuh masyarakat, bukan hanya opini kebangsaan saja.

Menurut hemat saya, koalisi pendukung Prabowo sangat berpotensi untuk kerja militan dengan satu tujuan memenangkan Prabowo untuk 2019 . Ada PKS yang teruji mesin politiknya mampu bekerja maksimal , PAN dengan basis suara Muhamadiyahnya, apalagi dengan adanya partai Demokrat dibarisan pendukung, tentunya selama 10 tahun SBY berkuasa, loyalisnya tersebar di se-antero nusantara. Dan jangan lupa, absennya Golkar akan lebih menguntungkan dengan kemudian digantikan oleh Partai Berkarya, Partai Baru Besutan Tommy Soeharto ini akan mampu merajut kerinduan masyarakat akan zaman ke-emasan Soeharto.

Tentunya potensi ini hanya akan menjadi senapan peluru angin jika tidak dikelola dengan tepat, karena perseoalannya terletak pada militansi kader dan keberanian untuk melakukan perlawanan, hal ini lah yang harus terus ditingkatkan.

Sebagai contoh, saya mengutip twit dari akun Soehartonesia di media sosial twiter :

“Loe khudu tau, untuk bisa ng’adepin penguasa pekok, dan sok berkuasa, yang menghalalkan segala cara untuk terus berkuasa itu, tidak hanya butuh Jendaral berprestasi, Alim ulama, Pengusaha muda Ganteng. Tapi, juga butuh ‘Anak Ndablek’ yang terlahir dari rahim indonesia, yang selalu Cinta tanah airnya,” dan di akun itu juga tertulis dengan nyelekit : “Bapak Loe anak buah babe gwe, ape loe!”
— Hahaha, saya tersenyum sendiri membacanya, sangat jelas siapa yang dimaksud dalam twit itu, dan
saya rasa twit itu tepat.

Jadi saran saya, Prabowo harus mulai berani keluar dari zona nyaman, dan jadilah Jendral yang sedikit nakal.

Ok, Jendral?

H. Anhar SE, caleg Berkarya DPR – RI

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *