Ketua Umum Satgas Anti Narkoba : Ratusan Ton Narkoba yang Masuk ke Indonesia Daya Rusaknya Lebih Dari Bom

LINTASSUMSEL.COM, JAKARTA, —H. Anhar SE, MM, ketua umum Satgas Anti Narkoba sangat mendukung pemutusan hubungan diplomatik dengan negara pemasok narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) ke Indonesia.

“Narkoba yang masuk ke Indonesia ini jumlahnya sudah ratusan Ton, bahkan mungkin lebih. bayangkan saja, ratusan ton loh, itu daya hancurnya bisa lebih dahsyat dari bom yang di jatuhkan di Indonesia, karena yang diserang generasi muda” ucapnya saat ditemui redaksi Lintas Sumsel disela berkumpul bersama puluhan ribu umat Islam persodaraan alumni 212 yang sudah memadati area Masjid Istiqlal untuk melakukan aksi “Tegakkan Hukum dan Keadilan” (jumat 6 juli 2018 ) yang rancanaya ba’da Sholat Jum’at di Masjid istiqlal lalu melakukan Longmarch menuju Kemendagri dan Bareskrim Gambir, Jakarta Pusat.

Namun persoalannya, sambung Anhar, “banyaknya narkoba masuk ke Indonesia bukanlah kebijakan negara dari mana narkoba itu berasal, jadi kita pesimis hal itu bisa dilakukan

Menurut wakil rakyat 2004-2009 yang kini juga aktif dalam Gerakan “Masyarakat Pencinta Soeharto”,(Presiden RI Ke 2) “Soehartonesia” tersebut, narkoba masuk ke Indonesia karena kegiatan mafia baik dilakukan secara perorangan maupun kelompok. “Jadi, agak sulit buat pemerintah melakukan sanksi politik dengan negara yang bersangkutan,” kata dia.

Kecuali, lanjut Anhar, penegak hukum di Indonesia memberikan sanksi berat terhadap warga negara asing yang menjadi pemasok barang haram itu. Namun, pemberian sanksi tersebut dihalang-halangi oleh negara mereka.

Bila itu yang terjadi, lanjut Anhar, kita sebagai rakyat berhak dan wajib mendesak pemerintah untuk memutus hubungan diplomatik dengan negara tersebut.

Karena itu, Anhar meragukan Indonesia berani melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan negara pemasok narkoba. Karena saat ini saja pelaksanaan eksekusi hukuman mati terhadap warga negara asing pemasok narkoba ke Indonesia juga sudah tidak jelas.

Akibatnya narapidana mati tersebut sampai bertahun – tahun mendekam di penjara dan bisa mengendalikan narkoba dari balik penjara. Sehingga peredaran narkoba tetap marak di Indonesia.

Buat Indonesia yang penduduknya relatif banyak dengan tingkat keragaman yang sangat heterogen, mencegah pengurangan peredaran gelap narkotika dengan jalan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya sampai hukuman mati bagi bandar/pengedar narkoba itu adalah sebuah keharusan dan mutlak harus diterapkan.

“Namun, terhadap pengguna atau pemakai (korban), rehabilitasi adalah solusi terbaik dan mutlak harus dikedepankan. Tidak bisa mereka ini disamakan dengan bandar, pemasok atau pengedar. Mereka itu adalah korban,” kata Anhar.

Agar Indonesia tidak menjadi target pangsa pasar narkoba, kata Anhar, efek jera terhadap pemasok, bandar maupun pengedar harus dilakukan seperti hukuman mati termasuk menyita kapal pengangkut narkoba itu.

Itu , Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan juga sudah bereaksi keras terhadap semakin maraknya peredaran narkoba dan temuan sabu-sabu yang berjumlah besar. Narkoba tersebut banyak “mengalir” dari luar negeri lewat jalur perairan.

Beliau bahkan mengatakan “Ini sudah darurat jangan ada toleransi lagi. Kalau perlu tembak, tembak, tembak itu semua bandarnya. Ini mengancam ketahanan nasional kita,” jadi menurut saya, “pemerintah juga harus tegas untuk mengingatkan negara yang oknumnya menyelundupkan sabu-sabu ke Indonesia untuk memperketat pengawasan”.

“Pemerintah perlu memprotes dengan tindakan diplomatik yang tegas untuk negara yang oknumnya selundupkan sabu-sabu, bangsa kita ini harus diselamatkan dari Narkoba bukan lagi hanya dengan kalimat “saya prihatin” yang diucapkan presiden”, tutup Anhar. (A/a)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *