Ledakan BOM Sosial

lintassumsel.com 

Saya pernah berbicara dengan tetangga saya ketika menyinggung isu terorisme. Penilaiannya akan ciri khas seorang teroris adalah begitu sederhana, tidak lebih dari pakaian ala timur tengah, berjanggut, dan untuk perempuannya mengenakan jilbab besar, dan tanpa ragu mengatakan bercadar.

Bukan hanya dia saja, saya mendapat cerita dari beberapa keluarga saya, saat itu ia akan pulang ke daerah tempat ia tinggal, di Sukoharjo Jawa tengah. Ia menggunakan bus dari Mojokerto, hendak menuju Solo terlebih dahulu, lalu sambung ke Sukoharjo.
Keluarga saya itu sempat diintrogasi panjang lebar dan cukup lama oleh pihak berwajib di terminal Mojokerto hanya karena ia menggunakan celana cingkrang, berjenggot dan berpeci, padahal ia hanya seorang pedagang obat-obatan herbal, sama sekali saya tidak pernah mendengar ia bertutur kata yang menjurus kearah ciri-ciri orang berperilaku radikal, ia ipar saya.

Hal demikian itu tentunya menimbulkan keprihatinan, dimana masyarakat kita justru semakin jauh dari logika kritis menyikapi fenomena yang terjadi, khususnya jika kita cermati pandangan masyarakat umum mengenai terorisme yang sedang terjadi.

Bahkan di sebuah media on line hari ini saya sempat membaca ,pasca kejadian ledakan bom bunuh diri di beberapa tempat di Surabaya, bahwa aparat kepolisian telah mengeluarkan himbauan untuk mewasapadai orang-orang yang menggunakan cadar. Sungguh pernyataan yang saya nilai amat dangkal, bukankah penduduk di negeri ini mayoritas adalah muslim, dan menggunakan cadar bukan merupakan larangan di dalam Islam.

Memang mengenai cadar ada penilaian yang berbeda di dalam masyarakat muslim sendiri, ada yang mengharuskan dan ada pula yang mengatakan tidak harus menggunakan cadar bagi wanita, namun perbedaan itu masih dalam kewajaran. Tetapi bukan berarti kemudian pengguna cadar dengan serampangan bisa dikaitkan dengan ciri-ciri Islam radikal. Saya pribadi menolak istilah radikal dipadukan dengan Islam, ajaran Islam jauh dari unsur radikalisme.

Lebih parah lagi beberapa media on line dan televisi dengan lantang melakukan indoktinisasi kepada pemirsa dengan menyiarkan bahwa tindakan terorisme di Indonesia disebabkan karena doktrin jihad tanpa meneliti dan menjelaskan kepada masyarakat dengan terperinci makna sebenarnya dari Jihad itu sendiri.

Media yang dengan serampangan memberitakan berperan besar menjadi penyebab timbulnya justifikasi yang menimbulkan stigma stigma negatif, masyarakat semakin tergiring mengartikan jihad adalah peperangan, pengeboman dan tindakan-tindakan radikal lainnya.

Bukankah jelas Rasullulah SAW mengatakan juga bahwa ibu yang berjuang dalam melahirkan anaknya adalah orang yang berjihad, orang tua yang berjuang menafkahi keluarga istri dan anak-anaknya adalah juga berjihad, dan masih banyak lagi lainnya.

Sesimpel itu, tidak harus dengan ledakan dan berdarah-darah, apalagi kita di Indonesia hidup dalam suasana damai. Tetapi penjelasan demikian sangatlah minim diangkat dalam pemberitaan, pokoknya pengeboman adalah indoktrinisasi dari jihad, padahal makna jihad sama sekali tidak terkait dengan tindakan radikalisme.

Sehingga bisa kita katakan salah besar jika kemudian melebeling ciri-ciri penganut paham radikalisme adalah orang-orang yang menggunakan cadar, janggut, celana cingkrang dan jidat hitam. Karana sejatinya hal demikian itu tidak dilarang dalam Islam , justru yang dilarang adalah tindakan kekerasan apalagi hingga mengorbankan jiwa manusia.

Sudah seharusnya pemerintah tidak hanya mewaspadai ledakan bom tetapi juga harus mengawasi pemberitaan media yang kisruh, serampangan dan asal-asalan dalam pemberitaannya, bila perlu berikan sangsi tegas.

Terutama pemberitaan pasca pengeboman yang dilakukan oleh segelintir orang yang disebut teroris. Karena jika persepsi salah tersebut didiamkan terus menerus tentunya hal demikian itu juga akan menjadi bom sosial yang akan menimbulkan ledakan perpecahan.

 

 

( ardi )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: