Nama Retno Herianto, warga Muaraenim, Mendadak Terkenal

 

MUARAENIM, lintassumsel.com, KTP elektronik miliknya menjadi viral di medsos, media elektronik, dan televisi karena menjadi bukti satu dari ribuan lembar e-KTP yang tercecer di Jalan Salabenda, Kemang, Kabupaten Jawa Barat.

Berbekal alamat di e-KTp yang tersebar itu Tribun Sumsel menelusuri kediaman orangtua Retno di Desa Cinta Kasih, Kecamatan Belimbing Kabupaten Muaraenim, Senin (28/5).

Tribun diterima ayahnya, Herman (63). Dia membuktikan Retno benar anaknya dengan memperlihatkan Kartu Keluarga dan foto-foto Retno.

Fakta terungkap. Bahwa memang ada perbedaan antara tanggal lahir Retno yang tertera di e-KTP dengan di Kartu Keluarga seperti diklaim Kemendagri.

Pada KTP tertulis 28-09-1983, sementara di KK 29-09-1983. Hanya saja, menurut Herman, putranya itu tak pernah melakukan penggantian e-KTP.

“Itu benar foto anak saya, biodatanya pun sama. Namun yang membuat saya bingung adalah KTP Retno anak saya ada sama retno, tapi kenapa ada lagi KTPnya yang tercecer itu, bearti e-KTP anak saya ada dua,” kata Herman.

Tribun tidak bertemu dengan Retno di rumah itu. Herman mengatakan, Retno tinggal dan menginap di kebunnya yang berada di Desa Air Cekdam.

“Retno jarang pulang, kalau pulang paling sebulan sekali, karena dia mengurus kebun kami di Desa air cekdam,” jelasnya.

Herman mengatakan, polisi telah mendatangi rumahnya dan mebuta keluarga kaget.Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Desa Cinta Kasih, Samson membenarkan Retno Herianto adalah warga Desa Cinta Kasih.

“Dia memang warga kami, anaknya polos dan tidak banyak ulah, setahu saya saat ini dia memang sedang sakit,” ujarnya.

Dikatakan Samson, dia tidak mengetahui terkait proses pembuatan e-KTP Retno.

“Kalau pembuatannya di Kecamatan Belimbing saya pasti tahu, dan setahu saya untuk di Desa Cinta Kasih tidak ada warga yang mengembalikan E-KTP yang rusak atau invalid melalui kantor desa,” jelasnya.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disduk Capil) Kabupaten Muaraenim, Drs H Iqbal Romzi, sudah mengetahui ada e-KTP milik warga Muaraenim ikut tercecer di Bogor.

“Semenjak berita itu heboh, Dirjen Dukcapil Kemendagri langsung memerintahkan stafnya untuk melakukan klarifikasi dan pemeriksaan dan ternyata benar di antara KTP tersebut ada yang berasal dari Muaraenim. Setelah diperiksa KTP tersebut ternyata sudah rusak dan invalid,” tegasnya.

Dijelaskan Iqbal, KTP yang ditemukan tersebut adalah KTP yang dicetak pada 2012-2013 yang lalu.

“e-KTP tersebut infonya berasal dari gudang di Jakarta dan rencananya mau dipindahkan ke Bogor, karena KTP-nya sudah rusak, namun alasan pemindahannya kami tidak tahu, karena itu wewenangnya Kemendagri, mungkin akan dimusnahkan atau memiliki alasan lainnya,” jelasnya.

Dikatakan Iqbal, yang pastinya setiap e-KTP yang rusak atau invalid yang ada di Disdukcapil Muaraenim langsung dikembalikan ke pusat.

“Karena arsipnya pasti akan diminta, dan banyak alasan penggantian e-KTP misal KTPnya rusak, ada perubahan data, atau adanya kesalahan dalam pencetakan. Setiap kali dilakukan penggantian e-KTP, KTP asli sebelumnya akan kami minta untuk arsip yang kemudian akan kami kembalikan ke pusat,” pungkasnya.

KTP Milik Retno Tercecer di Bogor, Keluaraga di Muareanim Kaget, Merasa Tak Pernah Ganti

Dari polisi itu pula dia mengetahui ada berita e-KTP anaknya yang ditemukan tercecer bersama ribuan E-KTP di Kabupaten Bogor tersebut.

“Kemudian saya dilihatkan foto e-KTP yang beredar di media sosial tersebut. Setelah saya lihat, itu benar foto retno, dan biodatanya pun sama persis. Saya katakan apa adanya saja dengan anggota polisi tersebut bahwa KTP anak saya ada,” katanya.

Dikatakan Herman, Retno pertama kali melakukan perekaman e-KTP pada 2012.

“Dia merekam di Kecamatan Gunung Megang, karena waktu itu Desa Cinta Kasih masih termasuk wilayah Kecamatan Gunung Megang belum menjadi Kecamatan Belimbing,” tututnya.

Setelah melakukan perekaman, Retno baru mendapatkan e-KTPnya pada 2015.

“Kata orang pembuatan E-KTP itu memang lama. Setelah e-KTP Retno didapat, sampai sekarang, ia masih menggunakan e-KTP tersebut,” terangnya.

Ditegaskan Herman, sejak memperoleh e-KTP tersebut anaknya tidak pernah melakukan penukaran e-KTP.

“Karena dapatnya lama, jadi dia sampai sekarang masih pake E-KTP itu, tidak pernah menukar ataupun mengembalikan, alamat kecamatan yang seharusnya sudah berubah menjadi Kecamatan Belimbing belum ia ubah, makanya saya bingung bagaimana ada e-KTP serupa punya retno,” tegasnya.

Ditambahkan Herman, terkait adanya penemuan E-KTP dengan identitas anaknya tersebut,ia meminta agar e-KTP tersebut diserahkan kepada keluarga.

“Kami minta e-KTP itu, biar kami saja yang memusnahkannya jika memang mau dimusnahkan, kami khawatir jika tidak kami terima e-KTP tersebut disalahgunakan oleh orang lain. Kalau itu terjadi tentu kami yang akan dirugikan,” pungkasnya.Dus berisi e-KTP tersebut ditemukan pada Sabtu siang, 26 Mei 2018. Kala itu, sebuah truk yang berjalan ke arah Parung menjatuhkan sebuah kardus di persimpangan Jalan Salabenda.

Melihat hal tersebut, warga langsung mendekati kardus yang ternyata berisi sejumlah e-KTP.

Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Zudan Arif Fakrulloh menuturkan telah ada pengecekan di lapangan oleh direktoratnya bersama Kepolisian Resor Kabupaten Bogor.

Menurut dia, e-KTP yang tercecer itu adalah e-KTP rusak yang sedang dibawa dari gudang penyimpanan sementara di Pasar Minggu menuju gudang Kemendagri di Semplak, Bogor. Kasus itu kini tengah ditangani Polres Kabupaten Bogor.

Mendagri Tjahjo Kumolo mempertanyakan kebijakan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang tak langsung menghancurkan e-KTP rusak itu.

Menurut dia, setiap keping e-KTP yang rusak atau salah harus segera dimusnahkan, bukan justru disimpan di gudang karena berisiko akan disalahgunakan.

“Dan kenapa harus memindahkan ke gudang Dukcapil di Bogor? Kok pakai mobil terbuka dan tidak dijaga?” kata Tjahjo.

 

 

 

(ika/tribunnews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *