Orang Garut Bukan Cuma Pemangkas Rambut

Oleh : Okky Ardiansyah
Analis Annas Digital

Jika ada yang menyebut Garut sebagai salah satu daerah terbesar pemasok pemangkas rambut di Indonesia, maka anggapan itu tak salah. Hampir di sebagian besar sudut kota-kota di Indonesia, kita dapat dengan mudah menemukan pangkas rambut, Asgar–singakatan Asli Garut. Mulai dari yang kelas biasa hingga yang membuka layanan di Mall dengan sewa tempat puluhan juta per bulannya.

Beberapa hari yang lalu saya sempat membaca Stiker unik di sebuah Mall di Jakarta : “Van Garut Barber Shop” telah hadir di lantai enam. Disain stikernya keren, hitam berpadu silver. Sangat terasa jika dikerjakan profesional, good.

Sehari usai debat pilpres, saya membaca artikel pada media On line : Presiden Joko Widodo menghadiri acara cukur masal yang digelar Persaudaraan Pangkas Rambut Garut (PPRG) yang berlangsung di kawasan wisata Situ Bagendit Kabupaten Garut. Jokowi ikut berpartisipasi untuk dipotong rambutnya.

Pada acara Debat Pilpres sesi pertama, memang selain saya memuji pakaian yang dikenakan pak Jokowi, kemeja putih yang walaupun terlihat sederhana namun tak bisa menyembunyikan kesan bahwa kemeja itu sangatlah mahal.
Kemeja yang dikenakan Jokowi sangat cocok dengan model rambutnya, simple. Pak Jokowi berhasil menampilkan kesederhanaan, namun berkelas. Selain kedua hal itu, kemeja dan gaya rambut, tak ada yang perlu saya puji, secara keseluruhan penampilan saat sesi paparan ataupun tanya jawab, Jokowi payah. Keindonesiaannya hilang, ia terlalu agresif

Walaupun tukang pemangkas rambut Jokowi sejak ia menjabat Gubernur DKI adalah orang Asli Kabupaten Garut, Garut adalah momok mengerikan buat Jokowi. Pada pemilu 2014 lalu ia kalah telak dengan Pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, yang mampu meraih suara sekitar 70,12 persen dari jumlah pemilih di Kabupaten Garut, sebanyak 1.250.119 jiwa. Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla hanya memperoleh 29,88 persen suara.

Untuk pilpres 2019 ini, mampukah Jokowi membalik keadaan ? Khususnya di Kabupaten Garut. Tentu sulit bagi kita untuk tidak mengartikan bahwa turut berpasrisiapasinya Jokowi dalam acara cukur masal bukan merupakan upaya pencitraan dalam upaya meraih simpati masyarakat Garut.

Namun bagi saya, gaya pencitaraan model seperti itu sudah habis daya magisnya-nya. Kini, masyarakat lebih riil, yang dinilai adalah hasil capaian selama Jokowi memimpin, dan cara-cara demikian tidak signifikan lagi digunakan untuk mengangkat elektabilitas Jokowi.

Buktinya : Pak, pilih siapa, Jokowi atau Prabowo? Jelas Prabowo lah,pak! Kenapa ? “Sekarang apa-apa mahal, pak,!” ujar penjual es yang juga rombongnya tersebar luas di Jakarta dan banyak daerah di Indonesia : rombong “Es Teler Sinar Garut.” Ga percaya ? Silahkan tanya sendiri.

 

Okky Ardiansyah

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: