Pilkada Serentak . Penting Menilai Rekam Jejak Kandidat

 

Palembang, LintasSumsel.com —Pemilihan kepala daerah secara langsung telah meberikan kesempatan seluas luasnya bagi masyarakat untuk menentukan pemimpin yang terbaik bagi daerahnya.

Namun jika kita menegok hasil perhelatan pilkada sebelumnya, hasil dari pesta demokrasi tersebut masih jauh api dari panggang. Banyak sekali kepala daerah yang justru terjerat kasus korupsi dan dugaan dugaan tindakan amoral yang tidak semestinya dilakukan oleh seorang pemimpin.

Sebut saja kasus pencabulan asisten rumah tangga yang diduga kuat dilakukan oleh salah satu bupati di Sumatra selatan berinisial HD. Kasus yang ramai di bicarakan ini sungguh mengoyak rasa keadilan masyarakat. Apalagi tindakan amoral itu hingga berbuah anak. Deretan permasalahan tersebut seharusnya menjadi pelajaran penting bagi masyarakat dan juga membuat kita dapat menarik kesimpulan wajar untuk mengatakan bahwa hasil pemilihan kepala daerah masih jauh dari apa yang bersama kita harapkan.

Berbagai sebab kegagalan tersebut diantaranya dikarenakan masyarkat dalam menentukan pilihan acap kali terpengaruh hal-hal yang justru menjadi sebab kegagalan dalam memilih kepala daerah. Contohnya seperti masih terpengaruh oleh praktik sogok menyogok yang dilakukan oleh kandidat.

Masyarakat masih terpengaruh juga dengan pencitraan yang dilakukan oleh kandidat yang begitu masif dengan menggunakan berbagai media sehingga tampak seolah menjadi tokoh sempurna yang nantinya akan amanah saat memimpin. Masyarakat cenderung abai untuk menilai rekam jejak kandidat.

Sudah seharusnya di era serba tekhnologi ini kita mulai melakukan transformasi. Hati, nurani, sudah tidak boleh lagi terbeli dengan uang. Sebagai masyarkat moderen dan cerdas, kita harus mampu berfikir jernih dan rasional.

Pelajarilah dengan baik rekam jejak sang calon. Carilah sebayak-banyaknya informasi menyangkut sepak terjang-nya selama ini. Karena dengan menilai rekam jejak maka akan tergambar bagaimana ia sesungguhnya (Kandidat) .

Jangan tertipu dengan penampilan yang tiba tiba terlihat hebat menjelang pilkada. Tampilan merakyat, cerdas dan bersih. Bisa jadi apa yang ditampilkan dengan singkat itu adalah polesan belaka.

Dengan demikian tentunya kecermatan masyarakat dalam menilai figur kandidat adalah mutlak. Hindari memilih calon pemimpin yang rekam jejak nya cacat integritas atau berkaitan dengan kasus yang mencederai rasa keadilan masyarakat. Karena seorang pemimpin seharusnya adalah figur yang harus sudah selesai dengan urusan moralitas.

Beberapa saat lalu kita juga dikagetkan dengan pemberitaan mengenai salah satu kepala daerah juga masih di Sumatra Selatan. Bupati muda OKU yang baru saja terpilih bukannya memulai kerja dengan menjalankan program yang dijanjikannya selama kampanye, justru malah diglandang BNN karena terjerat kasus penggunaan Narkoba. Bahkan ketika di bawa ke kantor polisi, sang bupati masih dalam keadaan teler usai pesta barang haram, sungguh memalukan.

Tahapan tahapan pilkada telah dimulai. Masa kampanye juga tergolong lama. Lewat sosialisasi melalui media elektronik maupun koran, spanduk, bener dan banyak metode yang dipergunakan kandidat untuk memeparkan program yang bagus-bagus, juga termasuk melalui debat terbuka yang diadakan.

Tentunya dengan kesemuan rangkaian itu, masyarakat sudah seharusnya mampu menilai dengan baik. Mampu mengunakan hati nurani untuk menilai dan menyaring informasi sehingga dapat memutuskan untuk memilih figur yang tepat. Terlebih lagi jika masyarakat memiliki kesadaran untuk menilai rekam jejak kandidat sebagai bekal dalam menentukan, memilih, calon pemimpin. Insya Allah akan mendapatkan figur pemimpin yang amanah.

(Aa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *