Rindu Pak Harto Itu Nyata, 2019 Ganti Presiden Itu Fakta

 

LINTASSUMSEL.COM

Menyalakan sebatang rokok menghisapnya dalam-dalam sambil membuka beberapa pesan
Whatsapp yang masuk.

Mata saya tertuju pada salah satu link portal berita on line yang dikirim seorang kawan. “Surat terbuka Adian Napitupulu,” demikian se-penggal judul yang tertulis dengan huruf kapital, mencolok.

Deg-degan saya membacanya perlahan-lahan, menghayati paragraf demi paragraf berharap menemukan sesuatu yang spektakuler dari tulisan Adian.

Ealah, sampai usai saya membaca ternyata isinya cuma berputar-putar pada isu-isu zaman-ku kuliah ndisek (dulu), yang ia sedikit ramu dengan tambahan analisa konyol. Ternyata, menjadi anggota DPR-RI yang terhormat tak mengubahnya menjadi lebih smart.

Sudah tentu, ia merasa mendapat panggung kembali, rasanya tidak hanya saya yang menilai bahwa di berbagai kesempatan ia selalu berusaha menunjukkan bahwa ialah yang paling paham mengenai Orde Baru, aktivis 98, ceritanya.

Kita ketahui, kini setelah dua puluh tahun Reformasi, nama Pak Harto ber-ubah menjadi simbol perlawanan terhadap ketidak mempuan Rezim Jokowi (junjungan si Adian), mengelola negara, mengemban amanat rakyat.

Bagaimanapun saat ini tidak mungkin dapat mengelak dari kenyataan bahwa Rakyat rindu Soeharto itu suatu hal yang nyata, dan 2019 rakyat ingin ganti presiden itu sebuah fakta.

Ndeso ? Ooo, iyo. La wong ulasannya masih seputar Freport , UU Penanaman Modal Asing, yang dikait-kaitkan bahwa itu semua kesalahan pak Harto.

Bagi saya, sederhana saja : ia tidak bercermin. Mangkane (mangkanya) kumus-kumus, (Baca muka berminyak, lusuh ) padahal sogeh (kaya).

Jika dahulu, mungkin isu yang ia coba angkat kembali tersebut mengena dikalangan mahasiswa, tetapi di era keterbukaan informasi ini sudah harusnya dia bercermin dan memahami bahwa kontrak Freeport pertama itu terjadi pada tahun 67, dan itu-pun soal tembaga, kontrak-pun hanya berjangka 30 tahun saja, harusnya berakhir di era siapa ?

Selain itu, secara geografis Freport berada di daerah pegunungan Papua yang sulit. Bangsa kita di ujung kebangkrutan, secara teknologi tidak mumpuni untuk menggarap sendiri, bahwa justru di era bangsa kita ber-teknologi seperti saat ini Soal Freeport harusnya ia pertayakan pada pejabat-pejabat era reformasi, kenapa kontrak dan konsesi-konsesinya justru diperluas, itu baru tjerdas. Bukankah hal tersebut juga merupakan tugas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ?

Reformasi digulirkan bertujuan ingin memperbaiki keadaan, jika demikian tentunya kontrak Freeport justru tidak malah diperluas dan diperpanjang ? Coba kau pertanyakanlah itu, bukan hanya tidur di ruang sidang.

Coba juga kau tanyakan mengapa justru dengan kemajuan teknologi saat ini malah negeri ini tak mampu mencapai swasembada pangan? Malah di era junjunganmu import digenjot ugal-ugalan.

Bukankah hal itu adalah sebuah bukti kegagalan ? Ojo ngisin-ngisini (malu-maluin) lah, Aku yo tau kuliah, yo aktivis, yo tukang Demo.

Adian juga menutupi kebenaran bahwa pada awalnya PORKAS diniatkan untuk menggalang dana masyarakat untuk membiayai PON (Pekan Olah Raga Nasional ), dimana ia katakan bahwa di era Orde Baru judi dilegalkan, rasanya ia sesat dalam menarik kesimpulan.

Bahwa judi kupon pada saat itu dilegalkan, benar. Tetapi, masih di era Orde Baru juga judi itu ditutup/ dibatakan.

Bahwa dalam perjalanannya, pak Harto memandang teramat besar mudharat yang disebakan judi Kupon itu, sehingga kemudian dibubarkan. Bukankah seharusnya memang begitu itu pemimpin yang sadar ? Melakukan evaluasi. Lalu, apa nya yang salah?

Kecuali, mungkin jika masih berlangsung hingga kini, kemudian atas dasar ke-imanan junjunganmu yang bersorban musiman itu, dan menimbang kemaslahatan, sehingga kemudian junjunganmu membubarkan, baru itu point plus. Mosok mikir sederhana ngono ae ora iso ?

Yang lucu lagi, ia menyoal sebuah gedung yang ia bahasakan sebagai monuman Gay, karena mirip kelamin laki-laki. Gedung itu dibangun era Pak Harto. Ia membahasakan bahwa pengakuan terhadap kaum Homo itu sudah dilakukam sejak Orba. Lah, kalau membahas sesuatu mbok yo ojo nanggung-nanggung, sekalian aja dari zaman kaum luth. Lol.

Di era pak Harto, tidak pernah saya menyaksikan pasangan Gay berpeluk mesra, berciuman dimuka umum laiyaknya kini, kalaupun ada prilaku demikian masih merupakan aib di lingkungan masyarakat. Mereka tak berani muncul dipermukaan.

Dan, untuk kau ketahui, temuan terbaru, ada 17 ribu pemuda pria sekolah menegah atas pisitif terjangkit HIV di Jawa tengah , dominan disebakan prilaku menyimpang tersebut. Jadi, apa dengan adanya temuan kasus itu kau juga akan menyalahkan pak Harto ?

Dan, coba mungkin perlu kau kritisi,junjunganmu, mengapa di era pemerintahan kekinian ini biaya pendidikan di perguruan tinggi menjadi sangat tidak ramah kepada orang miskin ?

Mengapa justru di era pak Harto pendidikan dapat dikondisikan dalam harga yang bisa terbeli bagi siapa saja, bagi semua anak bangsa, bukankah kau termasuk yang mampu menjangkaunya ?
Bangun, bersihkan matamu !!

Okky Ardiansyah
Analis di Annas Digital

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: