Survei 20 Tahun Reformasi : Ekonomi Saat Orde Baru Lebih Baik

20 tahun reformasi di Indonesia persoalan ekonomi dan sosial di masa orde baru masih dinilai lebih baik dibandingkan masa reformasi.Hal tersebut berdasarkan survei yang dilakukan Indo Barometer berkaitan dengan Evaluasi 20 Tahun Reformasi.

Jakarta, lintassumsel.com,  – Direktur Eksekutif Indo Barometer, M. Qodari memaparkan bahwa dalam 20 tahun reformasi di Indonesia persoalan ekonomi dan sosial pada masa orde baru masih dinilai lebih baik dibandingkan masa reformasi.

Hal tersebut berdasarkan survei yang dilakukan Indo Barometer berkaitan dengan Evaluasi 20 Tahun Reformasi yang dirilis dalam diskusi bertema tersebut di Hotel Harris, Jalan Sudirman, Minggu (20/5).

Dalam survei tersebut, sebanyak 54,6 persen masyarakat menilai bahwa pemerintahan Soeharto lebih baik untuk urusan ekonomi dan urusan sosial sebanyak 43,2 persen. Di masa reformasi sendiri, bidang ekonomi dan sosial dinilai baik oleh masyarakat masing-masing hanya 24,6 persen dan 30,2 persen.

Namun untuk bidang-bidang lain seperti politik, keamanan, hukum, budaya, pendidikan, dan kesehatsn masyarakat masyarakat menilai kondisinya paling baik di masa reformasi.

“Mayoritas menjawab reformasi kecuali ekonomi dan sosial. Kalau ingin masyarakat melupakan orde baru, maka yang harus diperbaiki adalah dua aspek ini,” katanya.

Dalam survei tersebut, masyarakat juga menilai bahwa presiden yang paling berhasil menjalankan tugasnya adalah Soeharto dengan persentase 32,9 persen, disusul Soekarno 21,3 persen, Joko Widodo (Jokowi) 17,8 persen, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 11,6 persen, BJ Habibie 3,5 persen, Abdurrahman Wahid 1,7 persen, dan Megawati Soekarnoputri 0,6 persen.

Namun hasil tersebut menunjukkan dinamika jika dibandingkan dengan survei serupa pada tahun 2011. Di survei Indo Barometer tahun 2011, dengan kategori yang sama, Soeharto mendapat persentase 40,5 persen. Jumlah tersebut menurun dari hasil survei tahun ini.

“Tapi sebanyak 36,3 persen publik menilai kondisi Indonesia saat ini pada masa reformasi lebih baik dibanding orde lama dan baru,” katanya.

Sementara sebanyak 32,6 persen masyarakat menilai masa orde baru lebih baik atau terdapat selisih sekitar 3,7 persen dari yang memilih masa reformasi. Dari hasil survei juga, Jokowi mendapat persentase 30,3 persen untuk presiden yang dinilai berhasil perbaiki kondisi Indonesia, kemudian Soeharto dengan persentase 41,8 persen untuk presiden yang dinilai sama saja atas kondisi Indonesia, dan kondisi yang lebih buruk juga diterima Soeharto dengan persentase 45,4 persen.

Sementara itu, Aktivis 1998 yang juga Politisi PDIP, Budiman Sudjatmiko mengatakan, membandingkan presiden-presiden setelah reformasi dengan Soeharto seperti membandingkan orang yang mempunyai modal waktu dan modal kekuasaan besar untuk menyelesaikan masalah dengan orang-orang yang modalnya kecil dan waktunya terbatas.

“Jadi wajar ada persepsi bahwa Pak Harto cukup berhasil. Pascareformasi kan cuma 3 tahun, 2 tahun, 5 tahun. Pak Harto 32 tahun. Jadi wajar kalau dia membangun lebih banyak jembatan, bendungan. dan kuasa lebih besar,” katanya.

Apaalgi saat itu, Soeharto juga mengontrol legislatif dan yudikatif, sedangkan presiden-presiden pasca reformasi tidak bisa melakukan itu. Dahulu, katanya, pusat dan daerah dikontrol tetapi setelah reformasi tidak lagi dan berlaku otonomi daerah.

Sumber: Suara Pembaruan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *